Manusiasenayan.id – Mulai dari biaya kuliah, biaya hidup yang makin bikin mikir, sampai urusan cari kerja setelah lulus, ternyata masih jadi PR besar buat anak muda Indonesia. Berbagai keresahan ini disampaikan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Australia saat ngobrol bareng Anggota DPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, di Australian National University (ANU), Canberra, Jumat (16/10/2026).
Dalam dialog bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA), obrolannya nggak cuma soal kehidupan mahasiswa. Mereka juga membahas demokrasi, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, pendanaan pendidikan, kebijakan ekonomi, sampai isu lingkungan. Intinya, banyak hal yang masih perlu dibenahi agar masa depan generasi muda makin punya harapan.
Ibas menilai, langkah pertama buat menghasilkan kebijakan yang tepat adalah mau mendengarkan suara masyarakat. Menurutnya, pemimpin nggak cukup cuma bikin keputusan dari balik meja, tetapi juga perlu memahami apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat.
“To lead is to listen. Seorang pemimpin harus mau mendengar karena dari sana kita dapat memahami harapan, kebutuhan, dan pemikiran masyarakat,” ujar Ibas, seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, Minggu (18/10/2026).
Ia menjelaskan, DPR RI punya peran penting untuk menampung dan memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui tiga fungsi utama, yaitu legislasi, anggaran, dan pengawasan. Artinya, masukan dari mahasiswa nggak boleh berhenti sebagai obrolan saja, tetapi perlu diteruskan melalui mekanisme yang sesuai dengan kewenangan lembaga terkait.
Soal anggaran negara, Ibas juga mengingatkan pentingnya pengawasan. Jangan sampai dana yang sudah dialokasikan justru nggak memberikan manfaat nyata buat masyarakat. Karena itu, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, lapangan kerja, dan pembangunan berkelanjutan harus benar-benar diperhatikan saat pemerintah menyusun kebijakan.
Di sisi lain, Ibas menyoroti tantangan yang bakal dihadapi anak muda setelah menyelesaikan pendidikan. Persaingan dunia kerja makin ketat, sementara biaya hidup juga perlu jadi pertimbangan. Menurutnya, pendidikan tinggi harus nyambung dengan kebutuhan industri supaya lulusan punya keterampilan yang relevan dan peluang lebih besar buat mendapatkan pekerjaan.
Akses pendidikan juga nggak boleh cuma jadi privilege buat mereka yang punya banyak uang. Ibas mendorong perluasan dukungan pendidikan, termasuk beasiswa bagi mahasiswa berprestasi yang terkendala biaya. Dengan begitu, anak muda dari berbagai latar belakang tetap punya kesempatan buat mengenyam pendidikan berkualitas.
“Fokuslah pada pengembangan diri. Jadilah pribadi yang adaptif, disiplin, dan gigih. Bermimpilah sebesar-besarnya, tetapi iringi dengan kerja keras dan konsistensi,” pesannya.
Ibas turut mengingatkan mahasiswa Indonesia di luar negeri agar tetap kritis melihat persoalan bangsa. Menurutnya, menyampaikan kritik itu sah-sah saja, asalkan dilakukan secara bertanggung jawab dan tetap punya tujuan untuk membawa perubahan positif.
“Kita boleh kritis, boleh memberikan koreksi, dan boleh menyampaikan pandangan yang tajam. Namun, kita harus tetap mencintai negeri kita dan berkontribusi agar Indonesia menjadi lebih baik,” tegasnya.
Buat Ibas, pengalaman belajar dan jaringan internasional yang dimiliki mahasiswa di Australia bisa jadi modal berharga buat membangun Indonesia. Mahasiswa dan akademisi juga didorong menyumbangkan hasil riset, kajian, serta rekomendasi berbasis bukti agar kebijakan pemerintah dan DPR makin tepat sasaran.
Jadi, kuliah di luar negeri bukan cuma soal mengejar gelar. Pengalaman, ilmu, dan gagasan yang didapat juga bisa dibawa pulang untuk ikut mendorong Indonesia jadi lebih baik.
