Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin Totok Hedi Santosa, ceritanya bukan tipe yang tiba-tiba muncul terus langsung duduk di Senayan. Politisi PDI Perjuangan asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini sudah cukup lama malang-melintang di dunia politik. Ibaratnya, sebelum sampai Senayan, jalurnya sudah lewat banyak tikungan.

Totok mengawali pendidikannya di SD Medari 1, lanjut ke SMPN 1 Sleman dan SLTAN 1 Sleman. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di STF Driyarkara pada 1984–1989.

Menariknya, dunia organisasi juga sudah jadi bagian dari perjalanan Totok sejak muda. Pada 1980–1984, ia dipercaya menjadi Ketua Pemuda Katolik. Jadi, jiwa organisasinya memang sudah terasah sejak masih muda, jauh sebelum dirinya masuk ke panggung politik elektoral.

Setelah cukup lama berkecimpung di berbagai aktivitas, Totok mulai masuk ke parlemen daerah. Pada 2004–2009, ia menjadi anggota DPRD Kabupaten Sleman. Belum berhenti di situ, Totok kemudian naik level ke DPRD Provinsi DIY dan duduk sebagai anggota selama dua periode, 2009–2014 dan 2014–2019.

Kalau dihitung-hitung, pengalaman Totok di parlemen daerah bukan sebentar. Ada 15 tahun pengalaman sebagai legislator daerah sebelum akhirnya melangkah ke DPR RI. Ini yang bikin perjalanan politiknya cukup menarik untuk disimak.

Di luar parlemen, Totok juga aktif membangun gerakan sosial. Ia pernah menjadi Ketua Yayasan Tuk Alit pada 2000–2005. Kemudian, pada 2019–2024, ia dipercaya sebagai Sekretaris DPD PDI Perjuangan.

Nah, setelah perjalanan panjang itu, Totok akhirnya masuk Senayan sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Dapil DIY. Di DPR RI, ia ditempatkan di Komisi VI, yang banyak bersinggungan dengan BUMN, perdagangan, perindustrian, koperasi, dan dunia usaha. Ia juga tercatat sebagai anggota Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI.

Di Komisi VI, Totok nggak cuma duduk manis. Ia pernah menyoroti persoalan standar kualitas garam konsumsi dan mempertanyakan perbedaan standar pemerintah dengan PT Garam karena dinilai berpengaruh terhadap kualitas garam yang dikonsumsi masyarakat.

Ia juga ikut menyuarakan isu transisi energi. Menurut Totok, energi terbarukan memang butuh biaya besar dan waktu panjang, tetapi tetap menjadi keniscayaan karena berkaitan dengan masa depan lingkungan.

Jadi, kalau dirangkum, perjalanan Totok Hedi Santosa cukup panjang: dari aktivis organisasi, legislator daerah selama 15 tahun, pengurus partai, sampai akhirnya duduk di Senayan.

Buat Totok, politik bukan sekadar soal pindah kursi dari daerah ke pusat. Perjalanannya menunjukkan satu hal: pengalaman panjang bisa jadi modal ketika akhirnya dipercaya membawa suara daerah ke level nasional.