Manusiasenayan.id – Di dunia politik, perjalanan seseorang menuju Senayan nggak selalu dimulai dari panggung kampanye. Ada yang berangkat dari dunia bisnis, aktif di organisasi, lalu terjun langsung ke parlemen. Salah satunya adalah Hj. Sri Wulan, S.E., M.M., perempuan yang punya pengalaman di dunia usaha sekaligus perjalanan panjang di lembaga legislatif.

Namanya tercatat dalam perjalanan politik Jawa Tengah hingga DPR RI. Dengan latar belakang pendidikan ekonomi dan pengalaman organisasi yang beragam, Sri Wulan menjadi salah satu figur perempuan yang menarik untuk disimak di panggung politik nasional.

Berangkat dari Pendidikan Ekonomi

Sebelum berkecimpung di dunia politik, Sri Wulan menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Dukuhmulyo. Ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah di SMP Negeri 1 Jakenan pada 1989–1991 dan SMA Negeri 1 Jakenan pada 1991–1994.

Pendidikan tingginya berlanjut di Universitas Islam Indonesia (UII), dengan bidang ekonomi untuk jenjang D3 dan S1. Latar belakang ini menjadi bagian dari perjalanan akademiknya sebelum terjun lebih jauh ke dunia profesional dan politik.

Pengalaman di bidang ekonomi juga sejalan dengan perjalanan kariernya di sektor usaha. Sejak 2001, Sri Wulan tercatat menjabat sebagai direksi di Indonesia Multi Indah. Artinya, pengalamannya di dunia bisnis sudah berjalan jauh sebelum ia menapaki karier sebagai anggota DPRD dan DPR RI.

Dari DPRD Jawa Tengah ke Parlemen Nasional

Perjalanan politik Sri Wulan mulai tercatat di tingkat provinsi ketika ia menjadi anggota DPRD Jawa Tengah pada periode 2009–2014. Setelah itu, ia melanjutkan kiprahnya sebagai anggota DPR RI pada periode 2014–2018 dan 2019–2024.

Rentang waktu tersebut memperlihatkan pengalamannya di lembaga legislatif, baik di tingkat daerah maupun nasional. Dunia parlemen sendiri bukan cuma soal menghadiri rapat atau menyampaikan pendapat. Ada fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan yang menuntut anggota dewan memahami persoalan publik serta mengawal kebijakan pemerintah.

Dalam riwayat alat kelengkapan dewan, Sri Wulan tercatat pernah menjadi anggota Badan Sosialisasi MPR RI, Badan Anggaran DPR RI, dan Badan Legislasi DPR RI. Pengalaman di beberapa bidang ini memperlihatkan keterlibatannya dalam beragam fungsi kelembagaan parlemen.

Untuk periode 2024–2029, profil yang menjadi acuan tulisan ini mencantumkannya sebagai anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem. Komisi VIII membidangi urusan agama, sosial, serta pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, termasuk bidang kebencanaan sesuai pembagian tugas kelembagaan.

Aktif Berorganisasi, Bukan Cuma di Parlemen

Kalau melihat perjalanan organisasinya, aktivitas Sri Wulan juga nggak berhenti di lingkungan pemerintahan. Ia tercatat pernah menjadi kader Partai Gerindra pada 2009–2018 dan menjabat sebagai Bendahara I DPD Partai Gerindra pada 2009–2012. Sejak 2018, ia tercatat menjadi kader Partai NasDem.

Di luar aktivitas kepartaian, Sri Wulan terlibat dalam sejumlah organisasi kemasyarakatan. Sejak 2013, ia tercatat sebagai penasihat Sahabat Wulan. Ia juga menjabat sebagai Bendahara Umum Ikatan Keluarga Kabupaten Pati-Jakarta sejak 2015, serta Bendahara Umum Purna Jambore Nasional 91 pada periode yang sama.

Selain itu, ia tercatat sebagai pelindung Paseduluran Rantau Nusantara, Grobogan, sejak 2018. Deretan aktivitas ini menunjukkan bahwa perjalanan organisasinya menjangkau lingkungan politik sekaligus komunitas masyarakat.

Penghargaan dan Tantangan ke Depan

Pada 2024, Sri Wulan menerima penghargaan Wanita Penggerak Pembangunan Daerah dari pemerintah daerah, sebagaimana tercantum dalam data profil yang menjadi acuan tulisan ini.

Penghargaan tersebut menjadi salah satu catatan dalam perjalanan publiknya. Namun, untuk melihat dampak nyata dari kiprah seorang legislator, publik tetap perlu mencermati program, kebijakan, dan hasil kerja yang dapat diverifikasi.

Kini, dengan pengalaman di dunia usaha, organisasi, dan parlemen, perjalanan Sri Wulan menjadi gambaran bagaimana karier politik bisa terbentuk melalui berbagai jalur. Tantangannya tentu tidak ringan, terutama ketika tugas legislasi dan pengawasan harus bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, jabatan dan pengalaman memang menjadi bagian penting dari sebuah profil. Tetapi, bagi publik, hal yang paling layak ditunggu adalah bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Sebab, di Senayan, yang paling penting bukan sekadar siapa yang duduk di kursi parlemen, melainkan bagaimana tanggung jawab itu dijalankan untuk kepentingan rakyat.