Manusiasenayan.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan cuma bikin langit penuh asap, tapi juga bisa mengancam kesehatan warga. Nggak mau masyarakat makin terdampak, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta seluruh puskesmas di wilayah terdampak untuk membuka rumah oksigen dan memastikan kebutuhan obat-obatan tetap aman.

Lewat edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Budi menegaskan bahwa urusan logistik kesehatan nggak boleh molor. Pemerintah daerah (pemda) juga harus ikut bergerak supaya masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus menunggu terlalu lama.

“Seluruh Puskesmas di wilayah terdampak wajib membuka layanan rumah oksigen dan menjamin ketersediaan obat-obatan, khususnya untuk penanganan ISPA dan diare,” ungkap Menkes dalam edaran yang diterima detikcom.

Nggak berhenti di situ, Kemenkes juga menyalurkan 500 ribu masker tambahan untuk tiap provinsi terdampak, lengkap dengan oxygen concentrator (OC) alias alat pemusat oksigen. Bantuan ini ditujukan untuk memperkuat penanganan kesehatan warga yang terdampak kondisi lingkungan akibat karhutla.

Di tengah situasi ini, kelompok rentan juga nggak boleh luput dari perhatian. Kemenkes bersama pemda, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan tenaga kesehatan setempat turun langsung memperluas layanan posyandu dari rumah ke rumah.

Sasarannya mulai dari anak-anak, ibu hamil, sampai lanjut usia (lansia). Lewat cara ini, mereka tetap bisa mendapatkan perhatian kesehatan tanpa harus repot keluar rumah dan berisiko terpapar asap saat kondisi udara memburuk.

Menkes juga mengingatkan masyarakat supaya tetap di rumah kalau nggak ada keperluan mendesak. Imbauan ini penting karena paparan asap karhutla bisa memicu gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Biar penanganannya makin terarah, Kemenkes turut mengerahkan tim Pusat Krisis Kesehatan (Puskris). Tim ini bekerja bareng Dinas Kesehatan setempat untuk memantau distribusi bantuan, mengecek operasional rumah oksigen, sekaligus mencari tahu kebutuhan warga di lapangan.

“Tim juga turun langsung untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan warga agar penanganan dapat berjalan efektif, terpadu, dan sesuai kebutuhan daerah,” tandasnya.

Intinya, penanganan karhutla nggak cukup cuma fokus memadamkan api. Kesehatan warga juga wajib jadi prioritas. Mulai dari ketersediaan oksigen, obat-obatan, masker, sampai layanan kesehatan untuk kelompok rentan harus dipastikan berjalan. Jangan sampai warga yang sudah terdampak asap malah kesulitan mendapatkan pertolongan medis.