Manusiasenayan.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Papua Selatan mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Kabar baiknya, luas area terbakar terus menyusut. Tapi jangan buru-buru lega dulu! Pasalnya, ratusan titik api masih terdeteksi dan petugas masih harus berjibaku di lapangan untuk memastikan kebakaran benar-benar padam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih menjadikan Papua Selatan sebagai salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla. Berdasarkan data per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, luas area yang terbakar tercatat mencapai 695 hektare dengan 379 titik panas.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa kondisi di lapangan masih membutuhkan perhatian serius.

“Berdasarkan data BNPB per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, Papua Selatan masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla,” kata Berton dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).

Bukan tanpa alasan, dari data tersebut masih ada 171 titik api yang belum padam dengan luas area sekitar 253 hektare. Artinya, meskipun kondisi mulai membaik, pekerjaan rumah petugas untuk menuntaskan kebakaran masih cukup besar.

Kalau dibandingkan dengan kondisi pada 31 Oktober, penurunannya memang lumayan signifikan. Jumlah titik panas yang sebelumnya mencapai 943 kini tinggal 379 titik. Titik api juga turun dari 263 menjadi 171 titik.

Begitu pula luas area terbakar yang sebelumnya mencapai 1.742 hektare kini menyusut menjadi 695 hektare. Sementara area yang belum padam turun dari 577 menjadi 253 hektare.

Buat BNPB, perkembangan ini jelas menjadi kabar positif. Namun, mereka mengingatkan bahwa angka tersebut belum bisa jadi alasan untuk mengendurkan pengawasan. Data luas kebakaran masih bisa berubah mengikuti pembaruan pemantauan geospasial dan hasil pemeriksaan langsung di lapangan.

Sebelumnya, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal sudah melakukan pemantauan udara pada 31 Oktober. Hasilnya, kepulan asap dan sejumlah titik api masih terlihat di Kabupaten Merauke.

Untuk mempercepat penanganan, BNPB terus memperkuat pemantauan menggunakan satelit dan drone. Titik api juga diverifikasi agar petugas bisa bergerak lebih cepat. Koordinasi turut melibatkan BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, serta berbagai pihak terkait.

Nggak cuma soal pemadaman, BNPB juga menyoroti kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar. Aktivitas ini harus diawasi ketat supaya tidak memunculkan titik api baru yang justru bikin situasi makin runyam.

Di sisi lain, BNPB bersama BMKG ikut mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang turunnya hujan. Hingga 31 Oktober, sebanyak 13 sorti penyemaian awan sudah dilakukan dengan total penggunaan 13.000 kilogram NaCl.

Meski begitu, OMC bukan solusi tunggal. Petugas tetap harus turun langsung memadamkan api dan mengecek setiap lokasi untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.

Jadi, meskipun angka karhutla mulai turun, perjuangan belum selesai. Papua Selatan masih butuh pengawasan ekstra sampai semua titik api benar-benar padam!