Manusiasenayan.id – Puluhan buruh datang ke depan Kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Makassar, buat menyampaikan protes. Yang mereka sorot bukan hal sepele. Massa mempertanyakan kondisi BBM dan LPG yang belakangan bikin masyarakat di Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan ikut resah.

Salah satu yang paling disorot adalah antrean kendaraan di sejumlah SPBU. Dalam beberapa waktu terakhir, antrean panjang terlihat di beberapa lokasi. Massa menilai kondisi seperti ini perlu dijelaskan secara terbuka oleh Pertamina karena efeknya langsung terasa ke masyarakat.

Enggak cuma soal ketersediaan BBM. Demonstran juga mempertanyakan isu kenaikan harga Pertalite yang ramai beredar. Mereka meminta Pertamina menunjukkan data dan kajian yang menjadi dasar penjelasan perusahaan.

Aksi kemudian sempat memanas. Sejumlah demonstran mencoba masuk ke area Kantor Pertamina. Mereka mendorong pagar sampai terbuka. Beberapa massa bahkan terlihat memanjat pagar.

Petugas kepolisian yang berjaga langsung mengamankan situasi. Setelah ketegangan mereda, pihak Pertamina menemui massa dan menjelaskan kondisi distribusi BBM di Sulawesi Selatan.

Sales Area Manager Retail Sulselbar PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Rainier Axel Siegfried Parlindungan Gultom, menyampaikan permintaan maaf atas gangguan pelayanan yang dirasakan masyarakat selama kurang lebih dua bulan terakhir.

“Kami mengucapkan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi selama kurang lebih dua bulan terakhir,” kata Rainier saat menemui massa.

Rainier mengatakan Pertamina sedang membenahi koordinasi dengan sejumlah pihak agar persoalan serupa enggak terulang lagi. Pertamina juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk membantu mengurai antrean di SPBU.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah menambah jam operasional SPBU di Kota Makassar sampai 24 jam. Harapannya jelas, pelayanan bisa lebih cepat dan antrean kendaraan enggak makin panjang.

Tapi, penjelasan Pertamina ternyata belum bikin massa puas.

Juru bicara lapangan aksi, Vikasianus Iccang, mengatakan demonstran masih meminta data terkait persoalan BBM dan LPG yang terjadi di Makassar serta Sulawesi Selatan.

“Jadi ini tuntutannya ke Pertamina. Kami ingin mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga terjadi kelangkaan BBM di Makassar dan Sulawesi Selatan,” ujar Vikasianus.

Vikasianus juga menyoroti pernyataan Pertamina mengenai adanya penggiringan opini terkait harga Pertalite. Menurutnya, massa butuh data atau kajian ilmiah supaya persoalan tersebut bisa dilihat secara jelas.

Karena belum menemukan kesepakatan, massa kemudian memberikan waktu dua hari kepada Pertamina untuk menyiapkan data dan penjelasan yang lebih lengkap.

Setelah menyampaikan tuntutannya, massa membubarkan diri. Sekarang bola ada di tangan Pertamina. Mereka diminta membuka data soal persoalan BBM dan LPG yang selama ini bikin masyarakat bertanya-tanya.