Manusiasenayan.id – Indonesia berada di kawasan Ring of Fire alias Cincin Api Pasifik. Artinya, risiko gempa bumi, letusan gunung berapi, sampai tsunami nggak bisa dianggap remeh. Menghadapi ancaman ini, pemerintah jelas nggak bisa jalan sendirian. Butuh kerja bareng banyak pihak, termasuk mahasiswa yang punya ide, tenaga, dan semangat buat turun langsung membantu masyarakat.
Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono pun mengajak mahasiswa ikut ambil bagian dalam penanganan bencana. Bukan cuma datang saat bencana terjadi, mahasiswa juga bisa membantu mengedukasi warga, meningkatkan kesiapsiagaan, sampai mendampingi masyarakat dalam proses pemulihan.
Ajakan tersebut disampaikan Agus Jabo saat menerima audiensi FORNASSOSMAS BEM SI 2026/2027 bersama mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) di Kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Dalam pertemuan itu, Koordinator FORNASSOSMAS BEM SI 2026/2027, Hilmi Putranta, berbagi cerita soal pengalaman delapan relawan Undip yang membantu korban gempa bumi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tim tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yakni tim kesehatan dan psikososial. Mereka turun langsung memberikan pelayanan di Kecamatan Reok, Kecamatan Ruteng, dan beberapa wilayah lainnya.
Dari pengalaman di lapangan, para relawan menemukan fakta bahwa kebutuhan korban bencana ternyata bukan cuma soal makanan, logistik, atau tempat tinggal. Dukungan mental dan psikososial juga nggak kalah penting. Pasalnya, anak-anak hingga orang dewasa masih dihantui rasa takut dan trauma setelah mengalami bencana.
Melihat kondisi tersebut, tim relawan Undip berencana kembali ke NTT pada November mendatang. Mereka ingin melihat perkembangan kondisi warga sekaligus mencari tahu bantuan apa saja yang masih dibutuhkan untuk mendukung pemulihan masyarakat.
Mendengar cerita tersebut, Agus Jabo mengapresiasi langkah nyata para mahasiswa. Ia menilai keterlibatan mahasiswa bisa membawa ide segar sekaligus memberikan masukan bagi program-program Kemensos.
Agus Jabo menjelaskan, penanganan bencana oleh Kemensos terbagi menjadi tiga tahap: sebelum bencana, saat tanggap darurat, dan setelah bencana. Sebelum bencana, Kemensos memperkuat kesiapsiagaan masyarakat lewat program Kampung Siaga Bencana (KSB) dan lumbung sosial yang menyediakan logistik serta kebutuhan dasar.
Saat bencana terjadi, Kemensos membantu memenuhi kebutuhan warga terdampak dan pengungsi. Setelah situasi mulai pulih, pemerintah juga menyalurkan bantuan sesuai ketentuan, mulai dari jaminan hidup, bantuan isi hunian, hingga santunan bagi korban meninggal dunia dan korban luka berat yang memenuhi persyaratan.
Menurut Agus Jabo, mahasiswa punya banyak peluang buat ikut berkontribusi. Mulai dari melakukan penelitian, menggelar edukasi kebencanaan, sampai membangun komunitas relawan di kampus yang bisa berkolaborasi dengan Taruna Siaga Bencana (Tagana).
Ia juga mengingatkan bahwa relawan nggak bisa asal terjun ke lokasi bencana. Mereka perlu memahami kondisi wilayah, mengenali risiko, dan mengikuti pelatihan supaya tahu apa yang harus dilakukan ketika situasi darurat terjadi.
Gayung bersambut, mahasiswa Undip menyampaikan rencana menyusun konsep pelatihan dan simulasi kebencanaan bagi mahasiswa. Agus Jabo menyambut positif ide tersebut dan meminta mereka berkoordinasi dengan tim Kemensos untuk membahas langkah lanjutannya.
Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Kemensos, Masriani Mansyur, turut membuka peluang kolaborasi dalam edukasi kebencanaan dan pendataan kebutuhan warga. Untuk rencana kunjungan ke NTT pada November mendatang, mahasiswa bisa membantu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dengan berkoordinasi bersama Kemensos dan pemerintah daerah. Dengan data yang jelas, bantuan diharapkan bisa sampai kepada warga yang benar-benar membutuhkan sesuai mekanisme yang berlaku.
Agus Jabo berharap pertemuan ini nggak cuma jadi ajang ngobrol dan bertukar ide. Lebih dari itu, ia ingin pemerintah dan mahasiswa benar-benar turun tangan bareng dalam penelitian, mitigasi, pelatihan relawan, hingga penanganan bencana di lapangan. Soalnya, ketika bencana datang, kolaborasi nyata jauh lebih berarti daripada sekadar wacana.
