Manusiasenayan.id – Berisik soal “tenggo” di kantor nggak bisa dilepas dari satu konteks gede: cara kerja Gen Z yang lagi berubah total. Generasi ini tumbuh di era informasi ngebut, budaya hustle, dan realita hidup multitasking. Kerja sambil ngerjain hal lain? Normal. Punya lebih dari satu role? Biasa.

Buat Gen Z, sistem WFO atau WFH bukan lagi fasilitas manis, tapi tanggung jawab profesional yang harus fleksibel ngikutin ritme hidup mereka. Banyak dari mereka ngejalanin multiple hustling—kerja utama jalan, side job juga gas. Jadi, waktu dan energi itu aset penting yang harus dijaga.

Paparan diskursus etos kerja modern bikin Gen Z makin sadar sama value diri. Beda sama generasi sebelumnya yang cenderung nurut dan diam, Gen Z lebih vokal soal batasan. Mereka kerja sesuai jam yang disepakati, dan berani nolak kerjaan di luar jam—bukan karena males, tapi karena work-life balance itu prinsip.

Di mata Gen Z, kerja bukan cuma soal gajian. Kerja juga soal kepuasan hidup, makna, dan relevansi sama nilai pribadi. Mereka nggak mau kerja kayak mesin. Mereka pengin tahu: kenapa gue ngerjain ini? kontribusi gue apa? ini sejalan nggak sama hidup gue?

Hal ini nyambung sama temuan Deloitte yang nyebut Gen Z sebagai generasi yang sadar nilai hidup dan isu sosial. Mereka nyari tempat kerja yang punya tujuan jelas—work with values, grow with purpose. Bahkan, buku Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta juga ngebahas soal cara orang memaknai kerja: buat aktualisasi diri, pengalaman hidup, atau stabilitas jangka panjang. Gen Z cenderung reflektif dan sadar pilihan.

Makanya, banyak Gen Z—termasuk anak magang—lebih milih punya kerjaan sampingan ketimbang bergantung pada satu jalur karier. Di sini, fleksibilitas waktu jadi kunci. Selama tugas hari itu kelar dan nggak ada urgensi lanjutan, mereka merasa sah buat tenggo.

Nah, dari sinilah istilah “tenggo” rame. Secara sederhana, teng berasal dari bunyi jam penanda waktu selesai, dan go artinya pergi. Jadi tenggo = pulang tepat waktu, bahkan bisa lebih awal kalau kerjaan beres. Bukan bolos, bukan kabur.

Masalahnya, karena banyak pelakunya adalah anak magang—posisi yang kalau diibaratkan game masih level newbie—muncullah istilah satir “Panglima Tenggo”. Sosok yang pulangnya duluan, kadang sebelum senior. Ini jadi simbol keberanian kecil di tengah budaya kerja lama yang masih ngukur loyalitas dari lamanya duduk di kantor.

Fenomena ini nunjukin pergeseran makna kerja. Dari yang dulunya soal durasi hadir, jadi soal hasil dan tanggung jawab. Tapi di sisi lain, kalau tenggo dilakukan tanpa komunikasi, ia bisa dipersepsikan negatif. Di situlah label “panglima” muncul—sebagai kritik sosial, sekaligus hiburan khas Gen Z.

Intinya, tenggo adalah soal batas. Selesai ya selesai. Dan pelan-pelan, cara pikir ini lagi ngubah wajah dunia kerja.