Manusiasenayan.id – Kalau politik Indonesia itu tongkrongan, maka Longki Djanggola masuk kategori senior yang nggak banyak flexing, tapi semua orang tahu jam terbangnya tinggi. Sosok asal Palu ini bukan politisi dadakan yang muncul karena viral TikTok atau numpang momentum pemilu. Kariernya dibangun pelan-pelan dari birokrasi, daerah, sampai akhirnya duduk di DPR RI.
Longki Djanggola lahir di Palu, 11 November 1952. Menariknya, jiwa kepemimpinannya ternyata udah kelihatan sejak muda. Tahun 1967–1968, ia pernah jadi Ketua OSIS SMP II Palu. Buat anak tongkrongan zaman sekarang, mungkin ini semacam “ketua circle pertama” sebelum benar-benar masuk dunia organisasi yang lebih serius.
Karier profesionalnya mulai tercatat saat menjadi staf Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di Jakarta pada 1983–1984. Jabatan itu mungkin terdengar sederhana, tapi dari titik itu Longki mulai memahami cara kerja birokrasi dari bawah. Dan ya, banyak politisi senior hari ini justru lahir dari meja administrasi, bukan langsung dari panggung kampanye.
Yang bikin Longki beda, ia bukan cuma politisi, tapi juga punya latar belakang pendidikan farmasi dan profesi apoteker. Jalur akademiknya membawa dia menjadi sosok teknokrat sebelum akhirnya terjun penuh ke pemerintahan dan politik. Jadi ketika bicara soal tata kelola pemerintahan, ASN, atau pelayanan publik, Longki bukan tipe yang cuma baca briefing lima menit sebelum rapat.
Kariernya makin naik saat menjadi Bupati Parigi Moutong dua periode, lalu lanjut menjadi Gubernur Sulawesi Tengah selama dua periode (2011–2021). Di fase inilah namanya makin dikenal luas. Mulai dari pembangunan daerah, penguatan birokrasi, sampai menghadapi tantangan besar pascabencana di Sulawesi Tengah, semuanya jadi bagian dari perjalanan politiknya.
Sekarang, Longki duduk sebagai Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Gerindra untuk periode 2024–2029. Komisi yang ngurus pemerintahan dalam negeri, ASN, pertanahan, hingga pemilu. Bisa dibilang, ini arena yang cocok banget buat orang yang puluhan tahun hidup di dalam sistem birokrasi.
Selain di Komisi II, Longki juga aktif di Badan Legislasi DPR RI, tempat lahirnya banyak pembahasan aturan dan rancangan undang-undang penting. Pengalaman panjangnya di pemerintahan bikin dia punya sudut pandang yang lebih “lapangan”, bukan sekadar teori ruang rapat.
Di balik karier panjang itu, Longki juga pernah menerima Satya Lencana 10 Tahun dari Presiden RI, penghargaan yang diberikan atas pengabdian dalam pemerintahan. Sebuah simbol bahwa perjalanan kariernya memang dibangun lewat konsistensi panjang, bukan sekadar momentum politik lima tahunan.
Di usia kepala tujuh, Longki mungkin bukan politisi yang paling sering trending. Tapi justru di situ letak menariknya. Ia adalah contoh politisi generasi lama yang tetap relevan karena ngerti medan, paham birokrasi, dan sudah kenyang pengalaman dari level paling bawah sampai Senayan.
