Manusiasenayan.id – Belakangan ini, intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto jadi bahan obrolan di berbagai kalangan. Ada yang menganggap frekuensinya terlalu sering, ada juga yang mempertanyakan efektivitasnya. Tapi menurut Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa, cara melihat persoalan ini nggak bisa sesederhana menghitung berapa kali pesawat kepresidenan lepas landas.
Buat Saan, setiap presiden punya “medan permainan” yang berbeda. Tantangan yang dihadapi hari ini nggak sama dengan lima atau sepuluh tahun lalu. Karena itu, strategi yang dipakai untuk menjalankan diplomasi internasional juga pasti berbeda.
“Setiap kepemimpinan punya strategi dan urgensinya masing-masing dalam membangun hubungan dengan negara sahabat,” kata Saan kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Politisi NasDem itu menilai banyak orang terlalu fokus pada angka kunjungan tanpa melihat situasi yang sedang dihadapi Indonesia. Padahal, kondisi global sekarang lagi serba dinamis. Konflik geopolitik, persaingan ekonomi, perang dagang, sampai perebutan pengaruh antarnegara bikin banyak negara harus bergerak lebih aktif, termasuk Indonesia.
Menurut Saan, di tengah situasi seperti ini, Presiden Prabowo memang perlu lebih sering turun langsung untuk membangun, menjaga, dan memperkuat hubungan dengan negara-negara lain. Tujuannya bukan sekadar jalan-jalan diplomatik, tapi memastikan posisi Indonesia tetap diperhitungkan di tengah perubahan dunia yang bergerak cepat.
“Situasi hari ini mengharuskan Presiden membangun hubungan baik secara lebih intensif dan lebih serius,” ujarnya.
Karena itu, Saan menolak kalau kunjungan luar negeri Presiden Prabowo langsung dibandingkan mentah-mentah dengan presiden sebelumnya. Menurutnya, setiap era punya kebutuhan yang berbeda. Kalau tantangannya beda, ya cara mainnya juga beda.
Ibaratnya begini, nggak bisa membandingkan pemain yang bertanding di lapangan yang kondisinya berbeda. Yang harus dilihat bukan cuma berapa kali berangkat ke luar negeri, tapi apa hasil yang dibawa pulang buat Indonesia.
Data yang beredar menunjukkan Prabowo sudah melakukan sekitar 49 kunjungan luar negeri sejak Oktober 2024 hingga April 2026. Jumlah itu memang lebih tinggi dibanding pola kunjungan beberapa presiden terdahulu.
Sebagai gambaran, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono tercatat melakukan total 86 kunjungan selama 10 tahun masa jabatannya. Sementara Presiden ke-7 RI Joko Widodo melakukan sekitar 58 kunjungan selama dua periode kepemimpinan.
Meski begitu, kritik tetap datang. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal sebelumnya mengingatkan bahwa diplomasi internasional memang penting, tetapi frekuensi perjalanan Presiden juga perlu mempertimbangkan efektivitas, prioritas nasional, dan berbagai kebutuhan di dalam negeri.
Pada akhirnya, perdebatan ini bukan soal siapa yang paling sering naik pesawat. Yang paling penting adalah apakah setiap lawatan itu bisa membuka peluang baru, memperkuat posisi Indonesia di dunia, dan membawa manfaat yang benar-benar terasa buat masyarakat.
