Manusiasenayan.id – Pemerintah mulai tancap gas menghadirkan teknologi kecerdasan buatan (AI) ke dunia pendidikan. Kali ini, inovasi tersebut disiapkan untuk memperkuat penyelenggaraan Sekolah Rakyat, program pendidikan yang menjadi salah satu fokus pemerintah dalam memperluas akses belajar bagi masyarakat.
Teknologi AI ini lahir dari Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang digagas Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi). Pengembangannya melibatkan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB) dan ditargetkan mulai diterapkan di 178 Sekolah Rakyat pada tahun ajaran 2026/2027.
Mewakili Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Robben Rico menjelaskan bahwa teknologi AI tidak hanya menjadi pelengkap pembelajaran, tetapi juga akan menjadi asisten digital bagi kepala sekolah dan guru dalam menjalankan aktivitas akademik sehari-hari.
Menurut Robben, sistem tersebut akan membantu guru mulai dari menyusun kurikulum, merancang materi pembelajaran, hingga membuat soal pre-test dan post-test secara lebih cepat dan efisien. Dengan begitu, tenaga pendidik bisa lebih fokus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di kelas.
“Secara prinsip tata kelola itu mulai dari hulu sampai hilir. Ini salah satu contoh yang akan kami kembangkan. Kami sudah sepakat akan membawa aplikasinya ke 178 Sekolah Rakyat yang beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027,” ujar Robben dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7/2026).
Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri Demo Day & Graduation AITF 2026 di Auditorium Algoritma Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.
Tak berhenti pada pengembangan aplikasi, Kemensos juga menyiapkan strategi implementasi di lapangan. Ribuan guru nantinya akan memperoleh pendampingan agar mampu memanfaatkan teknologi AI secara optimal dalam proses belajar mengajar.
Bahkan, para pengembang yang tergabung dalam program AITF akan ikut terjun langsung memberikan sosialisasi kepada lebih dari 5.000 guru Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat adaptasi tenaga pendidik terhadap teknologi baru.
Selanjutnya, sistem AI tersebut akan diintegrasikan dengan Learning Management System (LMS) Sekolah Rakyat. Integrasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun Digital Quotient, yakni kemampuan memanfaatkan teknologi digital secara cerdas, produktif, dan bertanggung jawab di lingkungan pendidikan.
Robben memastikan pemerintah akan mengawal implementasi teknologi tersebut agar dapat dimanfaatkan secara merata oleh seluruh Sekolah Rakyat di Indonesia. Proses pengembangannya juga akan mendapat pengawasan dari Kementerian Komunikasi dan Digital agar berjalan sesuai standar.
Ia menegaskan bahwa Kemensos telah menyiapkan dukungan anggaran agar prototipe yang saat ini dikembangkan dapat segera berubah menjadi aplikasi yang siap digunakan secara luas.
“Kami di Kemensos atas izin Pak Menteri Sosial akan memastikan pelaksanaan program ini bisa dibantu dan di-cover dengan anggaran yang proper. Ini kan prototype kemudian harus diwujudkan dalam bentuk aplikasi yang sebenarnya,” katanya.
Pemerintah menargetkan seluruh inovasi hasil AITF dapat direalisasikan sepenuhnya sebelum akhir 2026.
Sementara itu, Kepala BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital Bonifasius Wahyu Pudjianto mengatakan program AITF merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi. Selain Universitas Brawijaya, program ini juga melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) serta Universitas Gadjah Mada (UGM) yang masing-masing mengembangkan solusi AI sesuai kebutuhan di lapangan.
Khusus Universitas Brawijaya, pengembangan difokuskan pada sistem pendukung Sekolah Rakyat dan pengelolaan bantuan sosial yang nantinya juga dimanfaatkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
