Manusiasenayan.id – Indonesia punya potensi sapi lokal yang bisa jadi andalan buat memenuhi kebutuhan susu dalam negeri. Tapi, potensi ini perlu dukungan serius, mulai dari perlindungan genetik, teknologi peternakan, sampai modal usaha. Anggota Komisi IV DPR RI, Endang Setyawati Thohari, mendorong penguatan sapi lokal dan koperasi peternak supaya Indonesia nggak terus bergantung pada pasokan susu impor.
Menurut Endang, sapi lokal yang sudah beradaptasi dengan iklim dan lingkungan Indonesia punya nilai penting buat ketahanan pangan nasional. Artinya, potensi yang sudah ada jangan sampai diabaikan, apalagi hilang begitu saja.
Saat melakukan kunjungan kerja ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur di Pasuruan, Jawa Timur, Senin (28/9/2026), Endang mengingat kembali program pengamanan sumber daya genetik sapi lokal yang pernah dirintisnya pada era 1990-an.
Buat Endang, genetik sapi lokal bukan sekadar urusan peternakan. Ini juga menyangkut aset dan kedaulatan pangan Indonesia. Karena itu, ia mendorong penguatan aturan, termasuk gagasan penyusunan RUU Sumber Daya Genetik.
Ia juga menyoroti peran Badan Karantina untuk memastikan sumber daya genetik Indonesia nggak dibawa ke luar negeri tanpa perlindungan yang memadai.
Nggak cuma soal aturan, Endang juga meminta pemerintah memberikan bantuan yang lebih sesuai dengan kebutuhan peternak di setiap daerah. Soalnya, karakteristik dan potensi sapi di tiap wilayah nggak selalu sama.
Sapi lokal yang sudah terbukti mampu beradaptasi dan menghasilkan susu perlu mendapat perhatian khusus. Menurutnya, bantuan pemerintah jangan disamaratakan karena keanekaragaman hayati Indonesia justru menjadi salah satu keunggulan yang harus dijaga.
Selain itu, pengembangan inseminasi buatan dan akses permodalan juga perlu diperkuat. Endang turut menyoroti kontribusi peneliti dan peternak yang mengembangkan sapi lokal, termasuk sapi Grati.
Ia menilai, para pihak yang ikut menjaga dan mengembangkan sumber daya genetik tersebut layak mendapat penghargaan. Salah satu opsi yang ia soroti adalah skema royalti. Dengan begitu, kontribusi peneliti dan peternak dalam mengembangkan potensi sapi lokal juga mendapat perhatian.
Urusan impor susu pun ikut menjadi sorotan. Endang menegaskan bahwa produksi susu dalam negeri harus menjadi prioritas. Jangan sampai kebijakan impor justru bikin peternak dan koperasi susu lokal kesulitan berkembang.
Menurutnya, Indonesia sudah menghabiskan waktu hampir 50 tahun untuk mengadaptasi sapi impor agar cocok dengan lingkungan lokal. Karena itu, upaya mengembangkan peternakan dalam negeri perlu terus dilanjutkan.
Jika kebutuhan masih belum terpenuhi, Endang berpandangan bahwa impor sapi bisa menjadi pilihan untuk mendukung produksi, alih-alih terus mengandalkan impor susu.
Di sisi lain, koperasi peternak seperti KUTT Suka Makmur punya peran penting dalam rantai pasok susu. Mulai dari produksi, pengolahan, penyerapan hasil peternak, sampai pemasaran, semuanya perlu berjalan dengan baik.
Intinya, kemandirian susu nggak bisa dibangun dari satu sisi saja. Penguatan sapi lokal, perlindungan genetik, teknologi reproduksi, akses modal, dan kepastian pasar perlu berjalan bareng. Dengan dukungan yang tepat, peternak lokal punya ruang lebih besar untuk berkembang sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.
