Oleh: Ichi Indrawan (Duta Petani Milenial KEMENTAN | Mahasiswa Program Pascasarjana Pembangunan Desa, IPB University)

Manusiasenayan.id – Setiap 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Momen ini bukan cuma soal mengenang perjuangan anak muda zaman dulu, tetapi juga jadi pengingat kalau generasi muda punya tanggung jawab besar buat menentukan masa depan Indonesia.

Tapi, ada satu pertanyaan yang perlu kita pikirkan: kalau anak muda makin jauh dari pertanian, siapa yang bakal memastikan rakyat Indonesia tetap punya makanan?

Ini bukan pertanyaan sepele. Masa depan pangan Indonesia nggak bisa cuma mengandalkan tanah yang subur dan sumber daya alam melimpah. Kita juga butuh orang-orang yang mau mengelola dan mengembangkannya. Artinya, regenerasi petani sudah bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang nggak bisa ditunda.

Selama ini, profesi petani masih sering dicap sebagai pekerjaan berat, kurang keren, dan nggak menjanjikan. Padahal, kalau dikelola dengan cara yang tepat, pertanian punya peluang ekonomi yang besar. Apalagi sekarang teknologi makin berkembang dan bisa bikin pekerjaan di sektor ini jauh lebih modern.

Coba tengok Amerika Serikat. Negara ini sudah menerapkan precision agriculture atau pertanian presisi untuk mengelola lahan. Mulai dari GPS, sistem kemudi otomatis, pemetaan tanah, sampai pemantauan hasil panen, semuanya dimanfaatkan agar kegiatan pertanian lebih efisien.

Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan bahwa pada 2023, sekitar 70 persen usaha pertanian tanaman pangan berskala besar sudah menggunakan teknologi kemudi otomatis.

Contoh lainnya datang dari Selandia Baru. Negara ini punya koperasi susu Fonterra yang dimiliki para petani dan menjadi salah satu kekuatan penting industri susu mereka di pasar internasional.

Dari dua contoh tersebut, kita bisa melihat kalau pertanian nggak melulu soal punya lahan luas. Ada faktor lain yang nggak kalah penting, seperti teknologi, manajemen usaha, kekuatan koperasi, dan akses pasar.

Desa Harus Jadi Tempat Anak Muda Berkembang

Kalau bicara regenerasi petani, kita nggak bisa lepas dari pembangunan desa. Sebab, desa punya peran penting sebagai pusat produksi pangan sekaligus tempat tumbuhnya calon petani masa depan.

Masalahnya, masih banyak anak muda yang menganggap bertani bukan pekerjaan dengan masa depan cerah. Mereka lebih tertarik masuk ke sektor industri dan jasa karena dinilai punya penghasilan serta peluang karier yang lebih menjanjikan.

Nah, pola pikir seperti ini perlu diubah. Bukan cuma dengan mengajak anak muda kembali ke desa, tetapi juga dengan menghadirkan peluang usaha yang benar-benar menjanjikan.

Pemerintah harus ikut turun tangan dengan membuka akses lahan, modal, teknologi, pelatihan, dan pasar. Perguruan tinggi juga perlu mengambil peran lewat inovasi dan pendampingan usaha pertanian berbasis desa.

Jangan sampai anak muda sudah semangat mau bertani, tetapi malah bingung mencari lahan, kesulitan modal, atau nggak tahu harus menjual hasil panennya ke mana.

Intinya, jangan cuma ajak pemuda kembali ke desa, tetapi pastikan desa juga punya masa depan buat mereka.

Semangatnya sederhana: bangunkan lahan tidur, bangunkan pemuda tidur!

Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045

Mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 jelas bukan pekerjaan gampang. Butuh perubahan besar dalam cara kita mengelola pertanian, mulai dari pemanfaatan teknologi sampai penguatan kelembagaan petani.

Pengalaman Amerika Serikat dan Selandia Baru membuktikan bahwa pertanian bisa berkembang ketika teknologi dan kelembagaan ekonomi berjalan beriringan.

Indonesia juga punya peluang yang sama. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan pengembangannya dengan kondisi wilayah, kepemilikan lahan, dan kehidupan masyarakat desa.

Satu hal yang perlu diingat, regenerasi petani nggak akan berhasil kalau cuma berhenti di spanduk, kampanye, atau slogan. Anak muda harus melihat pertanian sebagai profesi yang punya peluang penghasilan dan masa depan jelas.

Momentum Sumpah Pemuda harus jadi pengingat bahwa perjuangan generasi muda nggak berhenti setelah Indonesia merdeka.

Kalau pemuda 1928 berani bersatu memperjuangkan kemerdekaan, pemuda hari ini harus berani mengambil peran menjaga kedaulatan pangan Indonesia.

Karena bangsa yang besar bukan cuma bangsa yang punya industri modern, tetapi juga bangsa yang mampu menyejahterakan petani, menghidupkan desa, dan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Regenerasi petani adalah keniscayaan. Jangan sampai sawah kita subur, tetapi nggak ada generasi yang mau mengurusnya!