Manusiasenayan.id – Pola makan asal-asalan, jarang gerak, sampai kebanyakan konsumsi makanan manis dan berlemak. Kebiasaan kayak gini mungkin terasa biasa aja, apalagi kalau aktivitas lagi padat. Tapi hati-hati, guys! Kalau terus dibiarkan, risiko penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas bisa meningkat. Bahkan, penyakit tersebut bisa memicu masalah kesehatan yang lebih serius, seperti stroke dan gangguan jantung.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun mengingatkan masyarakat supaya mulai lebih peduli sama kesehatan. Pesannya simpel: jangan nunggu sakit dulu buat hidup sehat!
Peringatan ini disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam puncak Patient Safety Day 2026 di Lippo Village Main Campus Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Kamis (1/10/2026). Mengusung tema “Prevent Non-Communicable Diseases, Protect Lives”, acara ini menjadi bagian dari peringatan World Patient Safety Day 2026 yang diinisiasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut Taruna, menjaga keselamatan pasien bukan cuma urusan dokter dan rumah sakit. Masyarakat juga punya peran penting, terutama dengan menerapkan pola hidup sehat dan mencegah penyakit sejak awal.
Salah satu langkah yang bisa langsung dicoba adalah membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL). Bukan berarti harus langsung mengubah semua kebiasaan dalam sehari, tetapi mulai lebih bijak memilih makanan dan menjaga aktivitas fisik.
Kenapa hal ini penting? Data WHO menunjukkan penyakit tidak menular (PTM) menyumbang sekitar 74 persen kematian global. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi mencapai 30,8 persen pada penduduk usia 18 tahun ke atas. Prevalensi diabetes berada di angka 11,7 persen pada penduduk usia 15 tahun ke atas, sedangkan obesitas mencapai 23,4 persen pada penduduk berusia di atas 18 tahun.
Angka-angka ini jadi pengingat kalau urusan kesehatan nggak bisa dianggap enteng.
Minum Obat Juga Nggak Boleh Asal!
Selain pola hidup sehat, BPOM juga menyoroti pentingnya menggunakan obat dengan aman. Soalnya, obat yang dikonsumsi tetap perlu diperhatikan efek sampingnya. Pengawasan pun nggak berhenti setelah obat mendapat izin edar.
BPOM menjalankan pemantauan setelah obat beredar melalui sistem farmakovigilans. Masyarakat dan tenaga kesehatan juga bisa melaporkan dugaan efek samping obat lewat layanan daring e-MESO (Monitoring Efek Samping Obat).
Langkah ini membantu BPOM mengumpulkan informasi terkait keamanan obat yang digunakan masyarakat. Penguatan sistem farmakovigilans tersebut juga didukung Peraturan BPOM Nomor 4 Tahun 2026.
Mahasiswa Diajak Ikut Peduli
Kesadaran soal kesehatan juga perlu dibangun sejak bangku kuliah. Karena itu, BPOM menyasar lingkungan kampus dalam kegiatan Patient Safety Day 2026.
Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM William Adi Teja menilai mahasiswa punya peran strategis untuk membangun budaya keselamatan pasien sejak dini.
Rektor UPH Jonathan L. Parapak menyambut positif edukasi kesehatan di lingkungan kampus dan berharap kegiatan serupa bisa digelar di universitas lain. Perwakilan WHO Indonesia, Uhjin Kim, juga menegaskan bahwa keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama untuk mendukung Universal Health Coverage.
Acara ini diikuti sekitar 450 peserta secara langsung dan ribuan peserta melalui Zoom serta YouTube. Kegiatannya mencakup aksi simbolis melalui Wellness Tree, talk show interaktif bersama pakar dan kreator konten kesehatan seperti dr. Clarin Hayes, dr. Bobby Arfhan Anwar, serta apoteker Rahmat Hidayat Syah alias Mr Matt. Ada juga tantangan 10.000 langkah per hari.
Intinya, menjaga kesehatan nggak harus nunggu punya penyakit dulu. Mulai dari mengatur pola makan, membatasi GGL, aktif bergerak, sampai lebih teliti saat menggunakan obat. Langkah kecil yang konsisten bisa membantu menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
