Manusiasenayan.id – Di tengah dunia yang lagi nggak baik-baik aja, Indonesia justru berhasil bikin deal penting dengan Amerika Serikat (AS) soal tarif perdagangan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Indonesia sebagai salah satu dari sedikit negara yang berhasil mencapai kesepakatan tarif timbal balik atau agreement on reciprocal tariff dengan Negeri Paman Sam.

Menurut Airlangga, kesepakatan ini jadi modal penting buat Indonesia menghadapi situasi ekonomi global yang makin penuh ketidakpastian. Apalagi, tensi perang dagang antarnegara besar masih bikin perdagangan dunia ikut deg-degan.

“Saya tidak ingin membahas soal perang dagang secara mendalam, namun menurut saya Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang mampu mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait tarif imbal balik,” kata Airlangga dalam acara Industrial Summit 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2026).

Yang menarik, efek dari kesepakatan ini mulai kelihatan di sektor perdagangan. Airlangga menyebut nilai perdagangan Indonesia dengan AS melonjak hampir 18%.

Angka ini terbilang cukup unik. Pasalnya, ketika banyak negara lagi pusing menghadapi efek perang dagang, perdagangan Indonesia-AS malah naik signifikan.

“Hal ini merupakan suatu anomali, terlepas dari adanya perang dagang, perdagangan kita dengan AS justru meningkat hampir 18%,” ujar Airlangga.

Tapi pemerintah nggak mau cuma mengandalkan satu partner dagang. Indonesia juga terus gaspol mengejar berbagai kerja sama ekonomi dengan negara dan kawasan lain.

Salah satu yang sedang dikejar adalah Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Airlangga berharap kesepakatan ini bisa diratifikasi Parlemen Uni Eropa pada September atau paling lambat akhir 2026.

Meski begitu, prosesnya masih punya sedikit drama teknis. Salah satunya soal bahasa dokumen. Saat ini dokumen IEU-CEPA hanya tersedia dalam Bahasa Inggris, sementara negara-negara anggota Uni Eropa punya standar dan kebiasaan penggunaan bahasa resmi yang lebih kompleks.

Indonesia pun mencoba mencari jalan tengah dengan negara-negara Uni Eropa supaya kesepakatan tersebut tetap bisa diterapkan pada awal tahun depan.

Selain itu, Airlangga mengungkapkan Indonesia saat ini sudah punya sekitar 25 perjanjian kerja sama ekonomi. Nggak berhenti di situ, masih ada 13 negosiasi kerja sama lain yang sedang berjalan.

Menurut Airlangga, langkah ini penting karena Indonesia sedang hidup di tengah dunia yang penuh kejutan. Dalam dua sampai tiga tahun terakhir, pandemi, perang, hingga berbagai gejolak global datang silih berganti.

Artinya, Indonesia memang harus punya banyak backup plan dalam menjaga ekonomi nasional.

“Jadi, menurut saya saat ini kita hidup di dunia global yang penuh tantangan,” kata Airlangga.

Intinya, dunia boleh lagi penuh drama, tapi Indonesia nggak boleh cuma jadi penonton. Kerja sama perdagangan terus digenjot supaya ekonomi tetap jalan dan ujung-ujungnya kesejahteraan masyarakat tetap jadi tujuan utama.