ManusiaSenayan.id – Guys, kabar dari Senayan nih! Senator Jawa Barat, Agita Nurfianti, lagi angkat suara soal Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Menurut dia, kuota sekolah jangan dipukul rata kayak ukuran baju free size. Tiap daerah kan beda kondisi, nggak bisa disamain kayak template Excel.
“Misalnya di Jawa Barat, masih banyak kecamatan yang belum memiliki SMP dan SMA Negeri. Sehingga, anak-anak dari daerah tersebut kesulitan diterima di sekolah negeri karena kuota domisili terbatas. Memang sudah seharusnya daerah dapat menghitung kuota secara tepat sasaran, agar peluang anak-anak di wilayah yang kekurangan sekolah negeri tetap terbuka,” ungkapnya dalam RDPU Komite III DPD RI.
Masuk akal sih. Bayangin, anak-anak di daerah yang sekolah negerinya aja bisa dihitung jari, harus rebutan kuota sama kota gede yang pilihan sekolahnya bejibun. Rasanya kayak disuruh ikut lomba lari, tapi start-nya udah beda 100 meter duluan.
Retno Listyarti dari FSGI juga nyamber, jelasin kalau aturan dari pusat itu sifatnya cuma standar minimum. “Jadi kalau dibilanginnya 5 tapi di daerah maunya 10 boleh. Jadi kalau 50 tapi kalau Pemerintah Daerah maunya 70 boleh. Yang nggak boleh dikurangi,” tegasnya. Jadi, Pemda bisa kreatif, asal jangan pelit kuota.
Nggak berhenti di situ, Retno kasih solusi: petakan wilayah yang minim sekolah negeri, manfaatin gedung SDN kosong buat SMP, sampai gandeng sekolah swasta lewat PPDB bareng ala DKI. Jadi nggak ada alasan anak gagal sekolah cuma gara-gara kuota.
Agita pun nutup dengan tegas, “Pendidikan adalah hak dasar setiap anak bangsa. Tidak boleh ada anak yang gagal sekolah hanya karena masalah kuota atau karena ia lahir di daerah yang belum memiliki sekolah negeri.”
Nah, sekarang tinggal nunggu: Pemda mau gerak cepat atau masih nunggu “update versi terbaru” dulu?
