Manusiasenayan.id – Di tengah riuhnya politik Senayan yang kadang lebih rame dari debat tongkrongan tengah malam, nama Mangihut Sinaga muncul dengan karakter yang beda. Nggak banyak drama, nggak doyan cari panggung viral, tapi rekam jejaknya bikin orang otomatis angguk kepala.
Soalnya, sebelum duduk di kursi DPR RI bareng Partai Golkar, pria kelahiran Pematang Siantar, 8 April 1962 ini udah lebih dulu kenyang asam garam dunia hukum Indonesia. Dan bukan level ecek-ecek. Mangihut Sinaga pernah mengabdi lebih dari 30 tahun di institusi Kejaksaan RI sebelum akhirnya terjun ke dunia politik nasional.
Perjalanan hidupnya dimulai dari kampung sederhana di Kp Juhar. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri Kp Juhar, lanjut SMP Negeri Kp Juhar, lalu masuk Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS) di Pematang Siantar. Setelah itu, Mangihut merantau dan mengambil jurusan Ilmu Hukum di Universitas Tridharma Balikpapan pada 1982–1986. Nggak berhenti sampai situ, ia juga melanjutkan studi hukum di Universitas Airlangga tahun 2012–2014.
Kariernya di kejaksaan dimulai dari bawah. Tahun 1993, ia bertugas di Kejaksaan Negeri Balikpapan sebagai Kasubsi Sosial dan Budaya pada Seksi Intelijen. Setelah itu, kariernya terus naik pelan tapi pasti. Ia pernah jadi Kepala Cabang Kejari Tenggarong, Kajari Bontang, Kajari Purwodadi, sampai dipercaya menjadi Asisten Intelijen Kejati Kalimantan Timur.
Nama Mangihut makin dikenal ketika dipercaya memimpin sejumlah wilayah strategis. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur dan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, posisi yang nggak bisa diisi sembarang orang. Di internal Kejaksaan Agung RI, ia juga pernah duduk sebagai Inspektur V pada Jaksa Agung Muda Pengawasan hingga akhirnya menjadi Staff Ahli Jaksa Agung RI pada periode 2020–2022.
Yang bikin sosoknya makin menarik, Mangihut bukan cuma aktif di birokrasi hukum. Di ranah organisasi, ia pernah menjadi Ketua Umum PPTSB atau Ketua Marga Sinaga Sedunia selama lebih dari satu dekade. Perannya cukup besar dalam menjaga solidaritas dan jejaring sosial masyarakat Batak, khususnya marga Sinaga.
Atas pengabdiannya, Mangihut juga menerima tiga penghargaan bergengsi berupa Satya Lencana Karya Satya X Tahun dari Presiden Abdurrahman Wahid, XX Tahun dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan XXX Tahun dari Presiden Joko Widodo. Tiga generasi presiden, tiga penghargaan, satu nama yang tetap konsisten di jalur pengabdian.
Kini di DPR RI, Mangihut Sinaga duduk di Komisi III yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan, sekaligus menjadi bagian dari Mahkamah Kehormatan Dewan serta Panitia Khusus. Dengan pengalaman panjang di dunia kejaksaan, ia datang ke Senayan bukan cuma bawa teori, tapi pengalaman lapangan yang nyata.
Buat banyak anak muda, sosok Mangihut mungkin jadi pengingat kalau politik nggak selalu soal sensasi. Kadang, ada juga orang yang datang ke parlemen dengan modal pengalaman panjang, kerja sunyi, dan rekam jejak yang udah bicara lebih dulu.
