Manusiasenayan.id – Kalau ada yang bilang perjalanan menuju Senayan itu penuh tikungan, kisah Ade Yuliasih mungkin jadi salah satu contohnya. Perempuan kelahiran Serang ini bukan sosok yang tiba-tiba muncul saat musim pemilu. Jejak pengabdiannya sudah terbangun jauh sebelum namanya tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.
Hj. Ade Yuliasih, S.H., M.Kn. lahir di Serang, 2 Juli 1974. Berbekal latar belakang pendidikan hukum dan pengalaman panjang di dunia organisasi serta politik daerah, ia tumbuh menjadi salah satu figur perempuan yang cukup diperhitungkan di Banten.
Sebelum melangkah ke tingkat nasional, Ade lebih dulu mengasah pengalaman sebagai legislator daerah. Ia pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Banten selama dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2019. Pengalaman itu membuatnya memahami langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari pembangunan daerah, pelayanan publik, hingga pemberdayaan masyarakat.
Namun perjalanan Ade tak hanya diwarnai aktivitas politik. Ia juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan. Tahun 2010 hingga 2015, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua KNPI Serang. Setelah itu, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Banten periode 2011–2014 dan menjadi Wakil Ketua I Forum Pembauran Kebangsaan Kota Serang periode 2014–2019. Saat ini, Ade juga mengemban amanah sebagai Bendahara Umum Perkumpulan Urang Banten, organisasi yang berfokus pada penguatan identitas dan kebersamaan masyarakat Banten.
Puncak perjalanan politiknya datang pada Pemilu Legislatif 2024. Dengan dukungan besar dari masyarakat, Ade berhasil meraih 443.036 suara, angka yang mengantarkannya terpilih sebagai Anggota DPD RI Periode 2024–2029 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Banten. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kepercayaan publik tidak datang secara instan, melainkan dibangun melalui proses panjang dan kedekatan dengan masyarakat.
Sebagai senator asal Banten, Ade membawa harapan besar agar daerahnya terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat nasional. Berbekal pengalaman legislatif, jaringan organisasi yang luas, serta pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat, ia berupaya menjadi jembatan antara aspirasi warga Banten dengan kebijakan di tingkat pusat.
Di tengah dominasi politik yang masih banyak diisi tokoh laki-laki, perjalanan Ade Yuliasih juga menjadi contoh bahwa perempuan mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan bangsa. Dari ruang organisasi, kursi DPRD, hingga Senayan, langkahnya menunjukkan satu hal: konsistensi dalam mengabdi sering kali menjadi modal paling kuat untuk mendapatkan kepercayaan rakyat.
Bagi generasi muda, kisah Ade menjadi pengingat bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari panggung besar. Kadang, semuanya berawal dari keberanian untuk terlibat, mendengar kebutuhan masyarakat, lalu terus bergerak memperjuangkannya.
