Manusiasenayan.id – Nambah kuota mahasiswa memang penting supaya makin banyak anak muda bisa kuliah. Tapi menurut Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah, urusan pendidikan tinggi nggak bisa selesai cuma dengan memperbesar daya tampung. Yang nggak kalah penting adalah memperkuat tata kelola kampus supaya kualitas pelayanan ke mahasiswa tetap terjaga.
Saat melakukan Kunjungan Kerja Komisi X DPR RI ke Universitas Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (25/6/2026), Ferdiansyah menegaskan kalau kampus berdiri di atas dua fondasi yang sama penting, yaitu akademik dan manajerial. Menurutnya, dua aspek itu harus berjalan beriringan karena sama-sama menentukan kualitas sebuah perguruan tinggi.
Ia menilai, tantangan terbesar muncul ketika jumlah mahasiswa terus meningkat. Di satu sisi, akses pendidikan memang semakin terbuka. Namun di sisi lain, kemampuan manajerial pimpinan kampus juga harus ikut naik level agar hubungan antara mahasiswa dan pihak rektorat tidak semakin jauh.
Menurut Ferdiansyah, seorang rektor bukan sekadar pemimpin administratif yang menandatangani ijazah. Lebih dari itu, rektor juga harus menjadi sosok yang dikenal dan dekat dengan mahasiswanya.
“Kalau kami di politik ada istilah sapa warga. Kalau mahasiswanya 60 ribu, kapan sapa mahasiswanya? Bagaimana mereka tahu kalau itu rektornya? Ketemu saja belum, lihat wajahnya pun belum,” ujarnya.
Ia pun mengajak perguruan tinggi untuk tetap menjaga nilai-nilai humanis di tengah semakin besarnya skala kampus. Menurutnya, memperluas akses pendidikan memang langkah yang baik, tetapi jangan sampai membuat komunikasi antara pimpinan kampus dan mahasiswa menjadi kaku atau bahkan hilang sama sekali.
“Kita setuju tambah daya tampung, tapi jangan juga kehilangan marwah akar budaya kita sebagai orang yang humanis. Jadi kemampuan manajerial seorang Rektor PTN maupun PTS itu berapa?” kata Ferdiansyah.
Dalam kesempatan yang sama, politisi Fraksi Golkar itu juga menyoroti perubahan status Universitas Sriwijaya menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH). Ia mengaku penasaran apakah status baru tersebut benar-benar membawa dampak positif bagi pengelolaan kampus.
Dengan nada bercanda, Ferdiansyah bahkan sempat melempar pertanyaan kepada Rektor Unsri.
“Pak Rektor Unsri, happy enggak bapak jadi PTN BH? Nanti aja jawabnya, jangan sekarang. Biar objektif, supaya jadi bahan evaluasi untuk PTN-BH ke depan,” ucapnya sambil tersenyum.
Sebagai informasi, Universitas Sriwijaya resmi menyandang status PTN BH melalui Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2024. Status tersebut memberikan kampus otonomi yang lebih luas, mulai dari pengelolaan akademik, tata kelola nonakademik, fleksibilitas keuangan, hingga pembukaan program studi baru.
Meski begitu, Ferdiansyah mengingatkan bahwa kewenangan yang semakin besar harus dibarengi dengan tata kelola yang profesional, komunikasi yang dekat, dan pelayanan yang berkualitas. Baginya, kampus yang hebat bukan hanya yang mampu menerima puluhan ribu mahasiswa, tetapi juga yang tetap mampu membuat setiap mahasiswa merasa diperhatikan.
