Manusiasenayan.id – Jawa Tengah nggak cuma dikenal karena kulinernya yang bikin susah move on atau destinasi wisatanya yang nggak ada habisnya. Dari sisi politik, Jateng juga punya empat senator yang membawa suara masyarakat daerah ke DPD RI periode 2024–2029.

Mereka adalah Casytha A. Kathmandu, Abdul Kholik, Denty Eka Widi Pratiwi, dan Muhdi. Masing-masing punya cerita sendiri untuk sampai ke Senayan. Ada yang mengantongi jutaan suara, ada yang punya fokus kuat di urusan legislasi, ada yang aktif mengawal persoalan daerah, sampai ada yang masuk lewat jalur pergantian antarwaktu alias PAW.

Jadi, siapa aja mereka? Yuk, kenalan satu-satu.

Casytha A. Kathmandu: 3,5 Juta Suara, Bukan Angka Receh

Kalau ngomongin perolehan suara, nama Casytha A. Kathmandu langsung menarik perhatian. Pada Pemilu 2024, Casytha meraih 3.567.338 suara dan menempati peringkat kedua calon terpilih DPD RI dari Jawa Tengah.

Angka segitu jelas bukan angka kaleng-kaleng. Ada jutaan pemilih Jateng yang menitipkan suara dan harapannya kepada Casytha untuk dibawa ke Senayan.

Sebagai senator perempuan dari Jawa Tengah, Casytha menjalani periode 2024–2029 dengan tantangan yang nggak sedikit. Salah satu isu yang pernah ia soroti adalah tata kelola dana desa. Ia mendorong agar pengelolaan dana desa dilakukan secara transparan dan pengawasannya diperkuat supaya anggaran benar-benar kembali ke masyarakat.

Jadi, 3,5 juta suara itu bukan sekadar angka di hasil Pemilu. Di belakangnya ada ekspektasi warga Jateng yang tentu harus ikut dikawal.

Abdul Kholik: Kalau Urusan Legislasi, Ini Orangnya

Berikutnya ada Abdul Kholik. Pada Pemilu 2024, ia memperoleh 2.160.469 suara dan berada di peringkat ketiga calon terpilih DPD RI dari Jawa Tengah.

Tapi yang bikin profilnya makin menarik adalah perannya di internal DPD. Abdul Kholik dipercaya menjadi Ketua Panitia Perancang Undang-Undang (PPUU) DPD RI.

Sederhananya, PPUU berkaitan erat dengan kerja-kerja legislasi DPD. Jadi ketika pembahasan mulai masuk ke wilayah aturan, rancangan undang-undang, dan kepentingan daerah dalam proses legislasi, ruang kerja Abdul Kholik memang cukup dekat dengan urusan tersebut.

Dengan kata lain, kalau ada yang bilang politik itu cuma soal debat dan adu argumen, Abdul Kholik punya arena lain: ngurusin aturan supaya kepentingan daerah nggak kelewat dalam proses legislasi.

Denty Eka Widi Pratiwi: Nggak Cuma Duduk di Senayan

Ada juga Denty Eka Widi Pratiwi. Ia meraih 1.929.267 suara dan menjadi calon terpilih peringkat keempat DPD RI dari Jawa Tengah.

Denty juga tercatat aktif membawa persoalan daerah ke forum DPD. Salah satu yang pernah menjadi sorotannya adalah kondisi lapas dan rutan di Jawa Tengah.

Dalam laporan pengawasan DPD, Denty menyoroti bahwa sejumlah lapas dan rutan di Jateng mengalami kelebihan kapasitas. Ia menyebut ada 20 rutan dan 24 lapas yang membutuhkan perhatian dan revitalisasi karena mayoritas mengalami kondisi overcapacity.

Selain itu, Denty juga terlibat dalam pembahasan dan pengawasan sejumlah isu yang berkaitan dengan kepentingan daerah.

Jadi, kerja senator bukan cuma datang ke Senayan, duduk, rapat, lalu pulang. Setidaknya dari aktivitas Denty, persoalan yang muncul di daerah juga bisa dibawa ke meja pembahasan tingkat nasional.

Muhdi: Masuk Senayan Lewat Jalur PAW

Nah, cerita Muhdi agak beda. Ia tidak langsung mengisi kursi pertama Jateng setelah Pemilu 2024. Berdasarkan keputusan KPU, Taj Yasin yang sebelumnya berada di peringkat pertama mengundurkan diri sehingga Muhdi kemudian ditetapkan sebagai penggantinya.

Muhdi sendiri memperoleh 1.628.507 suara dalam Pemilu 2024. Setelah proses pergantian tersebut, ia menjadi bagian dari senator Jawa Tengah periode 2024–2029.

Dalam struktur DPD, Muhdi juga pernah tercatat sebagai Wakil Ketua III Komite I, yang membuatnya berada di posisi strategis dalam pembahasan isu-isu yang berkaitan dengan pemerintahan daerah, politik, hukum, dan sejumlah urusan terkait lainnya.

Jadi meskipun jalannya menuju Senayan berbeda dari tiga senator lainnya, tugas besarnya tetap sama: membawa aspirasi masyarakat Jateng dan memperjuangkannya di tingkat nasional.

Empat senator, empat cerita, satu daerah. Sekarang tinggal satu pertanyaan: isu Jateng apa yang paling wajib mereka kawal sampai tuntas?