Manusiasenayan.id – Indonesia lagi coba naik level soal urusan energi. Kali ini, pemerintah resmi meluncurkan Biosolar B50, sebuah program yang mencampurkan 50 persen biodiesel ke dalam bahan bakar solar. Targetnya cukup serius: mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan impor BBM.
Presiden Prabowo Subianto bahkan menyebut Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel 50 persen untuk bahan bakar solar.
“Dengan diluncurkan program ini Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodisel B50,” kata Prabowo saat peluncuran Biosolar B50 di Rest Area Km 57, Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/7/2026).
Tapi jangan salah, pemerintah bilang ini bukan sekadar soal teknologi baru atau cuma nambah persentase biodiesel biar kelihatan keren. Menurut Prabowo, B50 menjadi bukti bahwa Indonesia sebenarnya punya modal besar untuk mengolah kekayaan alam sendiri demi kepentingan rakyat.
“Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi,” ujarnya.
Buat yang belum familiar, gampangnya begini: program B50 mewajibkan solar dicampur dengan 50 persen biodiesel. Pemerintah berharap langkah ini bisa bikin Indonesia nggak terus-terusan bergantung pada impor BBM, sekaligus memberi nilai tambah lebih besar pada sumber daya alam dalam negeri.
Jadi, B50 bukan cuma perkara bikin bahan bakar lebih hijau. Ada misi yang lebih gede di belakangnya, yakni memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional. Bahasa simpelnya, Indonesia pengin lebih mampu berdiri di kaki sendiri soal urusan energi.
Program ini berjalan dengan mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 yang mengatur kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam minyak solar.
Meski sudah resmi diluncurkan, peralihannya nggak langsung simsalabim. Badan usaha penyedia BBM masih diberi waktu sampai 30 September 2026 untuk menghabiskan stok B40 sebelum sepenuhnya pindah ke B50.
Pemerintah juga mengklaim sudah menyiapkan program ini dari urusan teknis, pasokan, distribusi, sampai regulasi. Berbagai pengujian dilakukan untuk memastikan B50 aman, bekerja optimal, dan cocok digunakan pada berbagai jenis mesin diesel.
Nah, sekarang tinggal pembuktiannya. Apakah B50 benar-benar bisa bikin Indonesia makin mandiri soal energi? Atau jangan-jangan, perjalanan menuju kedaulatan energi masih panjang dan penuh tikungan?
