Manusiasenayan.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lagi-lagi jadi sorotan. Kali ini, sebanyak 270 orang di Cirebon dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah menyantap menu MBG. Kasus ini bikin Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, geram. Ia mempertanyakan sampai kapan kejadian serupa bakal terus berulang.
Menurut Charles, kejadian ini bukan masalah yang bisa dianggap angin lalu. Program yang seharusnya bikin anak-anak makin sehat dan gizinya terpenuhi justru nggak boleh sampai berujung pada masalah kesehatan. Pemerintah pun didesak buat segera melakukan evaluasi menyeluruh, bukan sekadar menunggu kasus berikutnya muncul.
“Saya sangat prihatin sekaligus marah melihat kasus dugaan keracunan MBG terus berulang. Kali ini di Cirebon, jumlah korban dilaporkan mencapai 270 orang. Sampai kapan anak-anak kita harus menjadi korban sebelum pemerintah benar-benar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program ini?” kata Charles saat dihubungi, Kamis (22/10/2026).
Charles mengingatkan, pemerintah jangan cuma fokus mengejar target distribusi makanan, sementara urusan keamanan pangan malah keteteran. Sebab, sebanyak apa pun makanan yang dibagikan, semuanya bakal sia-sia kalau kualitas dan keamanannya nggak terjamin.
Ia menegaskan, setiap dapur MBG harus benar-benar memperhatikan standar keamanan pangan. Keselamatan penerima manfaat harus jadi prioritas, bukan sekadar angka distribusi yang terus digenjot.
Nggak berhenti di situ, Charles juga meminta pemerintah memberikan sanksi tegas kepada dapur MBG yang terbukti menyebabkan keracunan massal. Menurutnya, penghentian operasional sementara aja nggak cukup kalau kelalaian yang membahayakan kesehatan masih bisa terulang.
“Dapur MBG yang terbukti menyebabkan keracunan harus ditutup secara permanen, bukan sekadar dihentikan sementara lalu diizinkan beroperasi kembali. Harus ada konsekuensi nyata ketika kelalaian dalam penyediaan makanan membahayakan kesehatan anak-anak,” ujarnya.
Buat Charles, pemerintah perlu membenahi program MBG dari hulu sampai hilir. Ia juga kembali mendorong skema MBG berbasis sekolah sebagai salah satu opsi yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi pelaksanaan program tersebut.
Ia mengingatkan bahwa tujuan utama MBG adalah membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, bukan malah bikin mereka harus mendapatkan perawatan medis.
“Jangan sampai pemerintah hanya sibuk mengejar jumlah penerima manfaat, sementara persoalan mendasar terkait keamanan pangan terus terabaikan. Tujuan MBG adalah memperbaiki gizi anak-anak kita, bukan justru membuat mereka masuk rumah sakit,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria, menyebut jumlah orang yang terdampak dugaan keracunan mencapai 270 orang berdasarkan pendataan hingga Rabu (21/10/2026) siang.
Dari total tersebut, 231 orang merupakan anak-anak, sedangkan 39 lainnya orang dewasa. Para korban mendapatkan penanganan medis di delapan rumah sakit di Kota Cirebon.
Beberapa rumah sakit yang menangani korban di antaranya RS Siloam Putera Bahagia, RS Ciremai, dan Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati.
Kasus ini jadi pengingat keras bahwa program MBG nggak cukup cuma soal makanan sampai ke tangan penerima. Kualitas, kebersihan, dan keamanan pangan juga wajib dijaga ketat. Jangan sampai program yang niat awalnya bikin anak-anak lebih sehat justru menghadirkan masalah baru. Pemerintah perlu bergerak cepat supaya kejadian serupa nggak terus berulang.
