Manusiasenayan.id – Kalau selama ini kamu pikir judol cuma hidup gara-gara situsnya masih bisa diakses, ternyata masalahnya jauh lebih dalam. Anggota Komisi I DPR RI, Junico Siahaan, bilang perang lawan judi online nggak bakal selesai kalau pemerintah cuma sibuk blokir website. Soalnya, yang bikin bisnis haram ini tetap hidup justru aliran duitnya.
Politisi yang akrab disapa Nico itu menegaskan, selama rekening penampung, transaksi digital, sampai jaringan pinjaman online ilegal masih bebas bergerak, bandar judol bakal terus cari cara baru buat lolos. Hari ini diblokir, besok muncul lagi dengan wajah yang beda.
“Jadi jangan cuma bangga karena jutaan situs udah ditutup. Kalau uangnya masih ngalir, ya mereka bakal terus hidup,” begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan Nico.
Yang bikin makin waswas, sekarang pelaku judol udah makin canggih. Berdasarkan data PPATK, sebanyak 88,6 persen transaksi deposit judi online pada triwulan I 2026 ternyata dilakukan lewat QRIS. Sementara transfer bank dan dompet digital sekarang cuma menyumbang sekitar 11,4 persen.
Artinya apa? QRIS yang biasanya dipakai buat bayar kopi, jajan, atau parkir, ternyata juga mulai dimanfaatkan oknum buat mengalirkan uang ke judi online. Makanya Nico meminta pemerintah nggak boleh kalah cepat sama modus baru ini.
Menurutnya, Komdigi, PPATK, OJK, Bank Indonesia, Polri, sampai penyelenggara sistem pembayaran harus duduk bareng buat ngacak jalur transaksi yang mencurigakan. Jangan sampai teknologi yang harusnya memudahkan masyarakat malah dimanfaatkan buat aktivitas ilegal.
Yang lebih bikin geleng-geleng kepala, sekarang ada bandar yang buka deposit mulai Rp5.000 lewat QRIS. Nominalnya memang kelihatan receh, tapi justru itu yang dianggap berbahaya.
“Orang bakal mikir, ah cuma lima ribu kok.” Padahal, kalau kebiasaan itu diulang terus setiap hari, uang buat makan, jajan, sekolah, sampai kebutuhan keluarga bisa pelan-pelan habis tanpa sadar.
Nico juga mengingatkan, nominal kecil bikin orang lebih gampang tergoda buat coba-coba. Batas psikologisnya jadi turun. Dari yang awalnya iseng, lama-lama bisa ketagihan.
Data PPATK memperlihatkan betapa besarnya bisnis ini. Sepanjang 2025, perputaran uang judi online mencapai Rp286,84 triliun dengan lebih dari 422 juta transaksi. Sementara pada tiga bulan pertama 2026 saja, nilainya sudah tembus Rp40,3 triliun, dengan total deposit mencapai Rp10,59 triliun.
Meski nilai perputaran uang tahunan turun dibanding tahun sebelumnya, Nico mengingatkan jangan buru-buru merasa menang. Justru jumlah transaksinya makin banyak, yang berarti akses masyarakat ke judol makin gampang.
Nggak cuma orang dewasa yang terancam. Data Komdigi menunjukkan hampir 200 ribu anak Indonesia sudah terpapar judi online. Yang bikin miris, sekitar 80 ribu di antaranya bahkan masih berusia di bawah 10 tahun.
Buat Nico, ini udah bukan sekadar soal pelanggaran hukum. Ini alarm kalau judol mulai mengincar generasi muda.
Karena itu, ia meminta pemerintah gaspol membangun sistem pertukaran data lintas lembaga secara real time, memperketat verifikasi merchant QRIS, melacak transaksi mencurigakan, membekukan rekening penampung, sampai memburu bandar dan jaringan pinjaman online ilegal yang ikut menopang bisnis judol.
Nico juga mengapresiasi langkah Komdigi yang sudah memblokir sekitar 3,7 juta situs dan konten judi online sejak Oktober 2024. Tapi menurutnya, perang melawan judol nggak boleh berhenti di tombol blokir.
“Kalau mau benar-benar beres, yang diputus bukan cuma situsnya. Aliran uangnya, rekeningnya, sampai ekosistem bisnisnya juga harus dibereskan. Jangan nunggu masyarakat bangkrut dulu baru negara turun tangan,” tegasnya.
