Manusiasenayan.id – Ngomongin ketahanan pangan, ternyata urusannya bukan cuma soal pupuk atau hasil panen yang melimpah. Ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu soal benih. Menurut Anggota Komisi IV DPR RI, Endang Setyawati Thohari, setiap daerah punya karakter lahan dan iklim yang berbeda, sehingga benih yang digunakan juga nggak bisa dipukul rata.
Hal itu disampaikan Endang usai mengikuti Kunjungan Kerja Panja Penyusunan RUU Pangan ke Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Selatan di Makassar, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, Indonesia memiliki kondisi geografis yang sangat beragam. Karena itu, pengembangan benih unggul spesifik lokasi menjadi langkah penting untuk memastikan produktivitas pertanian bisa maksimal di setiap daerah.
Endang menegaskan, BRMP perlu terus memperkuat riset pertanian yang menghasilkan benih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah masing-masing. Bukan hanya untuk komoditas padi atau beras, tetapi juga tanaman strategis lainnya seperti sorgum, jagung, hingga ubi.
Ia menilai, hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium tidak boleh berhenti sebagai laporan atau dokumen semata. Sebaliknya, hasil riset harus benar-benar diuji langsung di lapangan melalui uji multilokasi bersama para petani.
Menurut Endang, keterlibatan petani sejak tahap pengujian akan membuat proses adopsi teknologi menjadi lebih cepat. Ketika petani melihat sendiri performa benih di lahannya, mereka akan lebih mudah percaya dan menerapkan inovasi yang dikembangkan para peneliti.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya proses pendampingan dan penyebaran informasi kepada petani. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang dihasilkan, manfaatnya tidak akan terasa jika informasi tersebut tidak sampai ke masyarakat pertanian.
Di sinilah peran penyuluh pertanian menjadi sangat krusial. Mereka menjadi jembatan antara hasil riset dengan kebutuhan petani di lapangan. Melalui penyuluh, petani dapat memperoleh informasi mengenai jenis benih yang paling sesuai dengan kondisi tanah, cuaca, dan pola tanam di wilayahnya.
Namun, Endang mengingatkan bahwa penguatan riset tidak bisa berjalan sendirian. Dibutuhkan dukungan kelembagaan yang kuat serta anggaran riset yang memadai agar inovasi pertanian terus berkembang.
Meski BRMP selama ini menjadi salah satu motor penggerak modernisasi pertanian, ia menilai dukungan anggaran untuk penelitian dan pengembangan teknologi pertanian masih perlu ditingkatkan.
Menurut Politisi Fraksi Gerindra tersebut, investasi pada riset bukan sekadar pengeluaran, melainkan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.
Karena itu, Endang berharap RUU Pangan nantinya mampu memperkuat peran teknologi, inovasi, dan pengembangan benih unggul spesifik lokasi. Dengan begitu, petani bisa memperoleh benih yang benar-benar cocok dengan lahannya, produksi pangan daerah semakin mandiri, dan keberlanjutan sektor pertanian nasional tetap terjaga.
