Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin momen-momen penting dalam sejarah Indonesia, satu hal yang hampir nggak pernah absen adalah peran anak muda. Dari perjuangan kemerdekaan tahun 1945 sampai reformasi 1998, generasi muda selalu jadi mesin penggerak perubahan. Nah, menurut Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih, semangat itu jangan cuma jadi cerita sejarah yang dikenang tiap tahun.
Fikri menilai saat ini Indonesia justru sedang menghadapi tantangan besar. Mulai dari kondisi ekonomi global yang nggak menentu, persaingan kerja yang makin ketat, sampai perkembangan teknologi yang bergerak lebih cepat dari update aplikasi di ponsel kita. Di tengah situasi seperti ini, menurutnya, negara perlu punya arah yang jelas untuk mengembangkan potensi pemuda Indonesia.
Sayangnya, Fikri melihat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) belum punya grand design yang benar-benar kuat untuk menghubungkan dan menggerakkan seluruh potensi anak muda di Indonesia. Padahal, lembaga yang membawa nama “pemuda” itu seharusnya bisa jadi pusat komando berbagai program yang menyasar generasi muda.
Ia bahkan sempat menyoroti data internal Kemenpora. Dari sekitar 1.115 pegawai yang ada, rata-rata usianya sudah menyentuh angka 40 tahun. Bukan soal usia yang jadi masalah, tapi Fikri mempertanyakan apakah perspektif dan kebutuhan anak muda hari ini sudah benar-benar terwakili dalam penyusunan kebijakan.
Menurutnya, posisi pemuda dalam kebijakan nasional juga masih belum sejelas kelompok lain. Ia membandingkan dengan kebijakan pengarusutamaan gender yang sudah punya banyak payung hukum dan aturan yang konkret. Sementara urusan anak muda, sampai sekarang masih sering dianggap sebagai pelengkap, bukan pemain utama.
Karena itu, Fikri meminta Menpora Erick Thohir nggak cuma menunggu proses revisi undang-undang yang biasanya makan waktu lama. Ia mendorong Kemenpora untuk langsung gaspol mengambil peran sebagai orkestrator, alias pihak yang menyatukan berbagai program kepemudaan yang tersebar di banyak kementerian.
Soalnya, hampir semua kementerian punya program buat anak muda. Ada program magang, pelatihan keterampilan, pengembangan talenta, sampai kegiatan youth camp. Masalahnya, program-program itu sering jalan sendiri-sendiri dan kurang terhubung satu sama lain.
Buat Fikri, Kemenpora harus hadir sebagai “dirigen” yang mengatur irama agar semua program tersebut bisa bergerak dalam satu tujuan yang sama. Jadi, energi besar anak muda Indonesia nggak terbuang percuma, tapi bisa diarahkan menjadi kekuatan nyata untuk menghadapi tantangan zaman dan membawa Indonesia melangkah lebih jauh.
