Manusiasenayan.id – Anggota Komisi VII DPR RI, Hendri Munief, ngasih sorotan serius soal masa depan pendidikan vokasi tekstil di Indonesia. Saat kunjungan kerja ke Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (22/5/2026), ia mendorong lahirnya skema pembiayaan kreatif buat mahasiswa supaya kampus vokasi tetap jalan meski anggaran negara lagi ketat.
Menurut Hendri, kondisi efisiensi anggaran sekarang bikin dana kementerian ke politeknik dan akademi jadi makin kecil. Tapi, kata dia, jangan sampai urusan pengembangan SDM ikut kena rem. Apalagi sektor tekstil masih butuh banyak tenaga kerja yang siap tempur di industri.
“Dengan efisiensi yang ada, anggaran dari kementerian banyak berkurang sehingga anggaran yang diberikan kepada politeknik kecil. Tetapi harus ada yang menjadi prioritas,” ujar Hendri.
Ia menilai kampus tekstil di Surakarta punya potensi besar jadi pusat lahirnya tenaga kerja industri yang kompeten dan siap kerja. Tapi buat sampai ke titik itu, kampus nggak bisa jalan sendirian. Harus ada kolaborasi yang lebih serius antara pemerintah, kampus, dan pelaku industri.
Hendri mendorong perusahaan-perusahaan tekstil ikut turun tangan lewat program beasiswa, dukungan fasilitas praktik, sampai penyediaan tempat magang. Menurutnya, industri jangan cuma datang pas butuh rekrut karyawan, tapi juga ikut membentuk kualitas SDM sejak masih duduk di bangku kuliah.
Politisi Fraksi PKS itu bahkan mencontohkan model pendidikan vokasi di sektor petrokimia Banten yang mahasiswanya bisa kuliah gratis karena dibiayai industri.
“Kalau misalnya politeknik di petrokimia yang ada di Banten, mahasiswanya tidak bayar. Industrinya yang memberikan beasiswa-beasiswa,” jelasnya.
Skema kayak gini dinilai bisa jadi solusi realistis buat Akademi Tekstil Surakarta. Selain bantu mahasiswa dari sisi biaya, kerja sama industri juga bikin kurikulum kampus lebih nyambung sama kebutuhan dunia kerja yang terus berubah karena perkembangan teknologi.
Hendri juga bilang, rendahnya minat anak muda masuk jurusan tekstil harus dijawab dengan sesuatu yang konkret. Anak muda sekarang butuh kepastian. Kalau ada jalur magang, peluang kerja jelas, bahkan dukungan biaya kuliah, tentu pendidikan vokasi bakal lebih dilirik.
Menurutnya, pendidikan vokasi jangan lagi dipandang sebagai pilihan cadangan. Justru jalur ini bisa jadi jalan cepat buat masuk industri atau bahkan bangun usaha sendiri di sektor tekstil dan produk tekstil.
Ia berharap Kementerian Perindustrian menjadikan penguatan kerja sama industri sebagai fokus utama pengembangan Akademi Tekstil Surakarta. Sebab kalau pemerintah, kampus, dan industri bisa gerak bareng, Indonesia bakal punya SDM tekstil yang lebih siap kerja, adaptif, dan mampu bersaing di industri nasional.
