Manusiasenayan.id – Kalau biasanya kita lihat legislator pakai jas, duduk di ruang rapat, terus ngomongin kebijakan, ternyata ada juga yang dulunya lebih sering nongkrong di ruang kelas. Bukan nongkrong santai sih, tapi ngajar murid, kasih materi ke mahasiswa, sampai ikut ngurus kampus.
Nah, tiga nama ini punya cerita yang lumayan menarik: Abdul Fikri Faqih, Harris Turino, dan Andreas Hugo Pareira. Ketiganya punya background di dunia pendidikan sebelum akhirnya masuk ke parlemen.
Abdul Fikri Faqih — Dari Guru, Lanjut ke Senayan
Kalau ngomongin Abdul Fikri Faqih, dunia pendidikan sudah jadi bagian dari perjalanan kariernya sejak lama. Jadi, sebelum sibuk dengan agenda di Senayan, Fikri sudah lebih dulu merasakan serunya dunia sekolah.
Profil DPR mencatat Fikri pernah menjadi Guru PNS di Kota Tegal, mengajar di MA NU Al Iman Adiwerna Tegal, dan pernah dipercaya menjadi Kepala STM Muhammadiyah Tegal.
Setelah cukup lama berkutat dengan dunia pendidikan, jalurnya kemudian bergeser ke politik. Fikri kini menjadi Anggota DPR RI periode 2024–2029 dan aktif di Komisi X yang salah satu lingkup kerjanya berkaitan dengan pendidikan.
Menariknya, pengalaman sebagai pendidik ternyata nggak ditinggal begitu saja. Di parlemen, Fikri masih sering menyuarakan persoalan guru, kepala sekolah, hingga sistem pendidikan nasional.
Jadi kalau dulu urusannya murid dan sekolah, sekarang skalanya naik level: ikut ngomongin kebijakan pendidikan yang dampaknya bisa dirasakan masyarakat luas.
Dari ruang kelas, lanjut ke ruang parlemen.
Harris Turino — Dosen yang Pindah Tongkrongan ke Senayan
Kalau Harris Turino, ceritanya beda lagi. Sebelum duduk sebagai legislator, Harris sudah cukup lama akrab dengan dunia kampus.
Dalam dokumen resmi DPR, Harris menyebut dirinya telah menjadi dosen Universitas Indonesia dan IPMI International Business School sejak 1998. Jadi, pengalaman berdiri di depan mahasiswa bukan sesuatu yang baru buatnya.
Bayangin, selama bertahun-tahun yang dibahas adalah teori, strategi, bisnis, dan berbagai persoalan akademik bareng mahasiswa. Sekarang tongkrongannya bergeser ke ruang rapat parlemen.
Harris kini menjadi Anggota DPR RI periode 2024–2029 dan aktif di Komisi XI DPR RI yang banyak bersinggungan dengan isu ekonomi dan keuangan negara.
Bedanya cuma tempat dan lawan diskusinya. Kalau dulu ngobrol sama mahasiswa, sekarang ikut membahas kebijakan yang dampaknya bisa sampai ke masyarakat.
Dari ruang kuliah ke ruang rapat.
Andreas Hugo Pareira — Dosen, Wakil Dekan, Baru Gas ke DPR
Nah, kalau Andreas Hugo Pareira, perjalanan akademiknya bisa dibilang nggak kaleng-kaleng.
Catatan MPR menyebut Andreas pernah menjadi dosen S1 Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan sejak 1988 hingga 2017. Ia juga mengajar di program S2 Unpar dan Magister Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.
Bukan cuma ngajar, Andreas juga pernah dipercaya menjadi Wakil Dekan III FISIP Unpar. Jadi pengalaman kampusnya bukan cuma datang, ngajar, terus pulang. Ia juga pernah terlibat dalam pengelolaan fakultas dan aktivitas akademik lainnya.
Setelah perjalanan panjang di dunia akademik dan politik, Andreas kini masih menjadi Anggota DPR RI periode 2024–2029 dan dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI.
Kalau dulu rutinitasnya berkutat dengan mahasiswa, riset, dan dunia kampus, sekarang ia ikut duduk dalam ruang rapat dan membahas berbagai persoalan kebijakan.
Dulu ngajar mahasiswa, sekarang ikut bahas masa depan negara.
Background Akademik, Bekal Buat Masuk Senayan
Kalau ditarik garis besarnya, ketiganya punya jalur yang beda.
Fikri berangkat dari guru. Harris dari dunia dosen. Andreas punya pengalaman panjang sebagai dosen sekaligus pengelola fakultas.
Tapi ujungnya sama: pengalaman dari dunia pendidikan akhirnya dibawa masuk ke dunia parlemen.
Jadi, background akademik ternyata nggak cuma berguna buat berdiri di depan kelas atau ngejar nilai mahasiswa. Ilmu, pengalaman, dan kebiasaan membaca persoalan juga bisa jadi bekal ketika harus ikut ngomongin kebijakan negara.
Karena pada akhirnya, dari ruang kelas sampai ruang rapat, yang dicari tetap satu: gimana caranya bikin keputusan yang punya dampak buat banyak orang.
Siapa tahu, anak yang sekarang masih sibuk bikin tugas kampus, suatu hari malah duduk di Senayan.
