Manusiasenayan.id – Sindikat meterai palsu akhirnya kena ciduk. Polda Metro Jaya (PMJ) bareng Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan membongkar jaringan yang memproduksi dan menjual meterai ilegal di lima wilayah: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.
Nggak main-main, polisi menetapkan 16 orang tersangka. Mereka punya peran masing-masing, mulai dari produsen, pendaur ulang, distributor, kurir, sampai penjual. Dari operasi ini, aparat juga menyita lebih dari 3,4 juta keping meterai palsu yang siap dilempar ke pasar.
Yang bikin geleng-geleng kepala, aksi sindikat ini berpotensi bikin penerimaan negara ambles sampai Rp1,03 triliun.
Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, pun meminta polisi dan DJP jangan cuma puas setelah menangkap 16 orang. Menurutnya, aparat harus terus ngejar dalang dan pemodal yang kemungkinan berada di balik jaringan tersebut.
“Aktor intelektual atau pemodalnya harus diungkap,” ujar Abduh, sapaan Abdullah, dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Menurut politisi Fraksi PKB itu, pemalsuan meterai bukan sekadar bisnis ilegal ecek-ecek. Jaringannya terorganisasi dan praktiknya bisa terus muncul kalau cuma bagian bawahnya yang ditangkap.
Nah, bagian duitnya juga bikin penasaran. Polisi menyebut sekitar 4 juta keping meterai palsu sudah terjual dengan nilai nominal sekitar Rp40,07 miliar. Sementara itu, skala produksinya berpotensi bikin negara kehilangan penerimaan hingga Rp1,03 triliun.
Karena itu, Abduh mendorong polisi buat ngikutin aliran uangnya. Duit hasil jualan meterai palsu itu lari ke mana? Siapa yang menikmati? Apakah sudah dipakai membeli aset? Semua itu, menurutnya, harus dibongkar.
Kalau ternyata ada indikasi pencucian uang, aparat juga diminta nggak ragu mendalami dugaan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang).
Tapi urusan ini nggak cuma soal polisi dan sindikat. Abduh juga meminta pemerintah lebih gencar ngasih edukasi ke masyarakat supaya nggak gampang kecolongan.
Masyarakat bisa mulai belajar mengenali meterai asli dengan mengecek beberapa ciri, seperti bahan kertas, hologram, dan mikroteks. Masalahnya, edukasi lewat iklan layanan masyarakat maupun kanal publik dinilai masih belum cukup masif.
Jadi, selain buru dalangnya sampai ke akar, masyarakat juga perlu dibekali cara simpel buat memastikan meterai yang dipakai benar-benar asli. Biar nggak ada lagi yang baru sadar kena tipu setelah semuanya telanjur beres.
