Manusiasenayan.id – Kalau perjalanan karier itu ibarat naik kendaraan, Mohamad Toha kayaknya bukan tipe yang langsung masuk tol. Jalurnya muter ke mana-mana dulu. Pernah jadi guru, sales, editor, penerjemah, interpreter, dosen, wakil bupati, baru kemudian berkali-kali ngantor di Senayan.
Singkatnya: CV-nya lumayan rame, Guys.
Perjalanan pendidikan Toha dimulai dari SDN Pucangan I, lanjut SMPN Kertasura I dan SMAN Kertasura I. Setelah lulus SMA, ia masuk Universitas Sebelas Maret (UNS) mengambil Sastra Inggris pada 1983 dan menyelesaikan pendidikannya pada 1989.
Belakangan, urusan komunikasi juga menarik perhatiannya. Pada awal 2000-an, Toha kembali menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi di FISIP UNS serta Universitas Terbuka.
Nah, sebelum dunia politik jadi kesehariannya, Toha ternyata sudah kenyang pindah profesi.
Pada 1984–1990, ia menjadi guru di SMA Cokroaminoto I Solo, kemudian mengajar di Betania International Semarang. Tahun 1991, jalurnya belok sebentar menjadi sales representative Toyota Astra Motor Solo.
Nggak berhenti di situ.
Ia kemudian bekerja sebagai editor dan penerjemah di PT Erlangga pada 1991–1992. Pengalaman bahasa Inggrisnya bahkan membawanya menjadi interpreter di Konsulat Jenderal Kedutaan Besar Jepang pada 1992–1993.
Dari dunia bahasa, Toha balik lagi ke pendidikan. Ia tercatat menjadi dosen Universitas Veteran Sukoharjo pada 1995–2005.
Baru kemudian panggung politik makin terbuka.
Toha menjadi anggota DPRD Kabupaten Sukoharjo pada 1999–2000. Setelah itu kariernya naik ke eksekutif daerah. Ia dipercaya menjadi Wakil Bupati Sukoharjo selama dua periode, yakni 2000–2005 dan 2005–2009.
Selepas dari pemerintahan daerah, Toha gas ke level nasional. Ia menjadi Anggota DPR RI/MPR RI periode 2009–2014 dan 2014–2019. Dalam perjalanan politiknya, Toha juga aktif di PKB, mulai dari Ketua Tanfidz DPC PKB Sukoharjo, Wakil Ketua DPW PKB Jawa Tengah, Ketua Syuro DPC PKB Sukoharjo hingga Wasekjen DPP PKB.
Aktivitas organisasinya juga nggak cuma soal partai. Namanya pernah tercatat di Badan Narkotika Kabupaten, Pramuka, RAPI, HAMKRI hingga PAMOR RRI Surakarta.
Soal apresiasi, Toha pernah mendapat penghargaan Komunikator Terbaik dari PKB. Pada 2014, ia juga masuk dalam 100 Alumni Paling Berprestasi UNS.
Kini perjalanan panjang itu kembali membawanya ke parlemen. Toha duduk sebagai Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKB, sekaligus tercatat dalam alat kelengkapan Panitia Khusus.
Kalau ditarik benang merahnya, perjalanan Toha memang nggak dibangun lewat satu profesi saja.
Dari ngajarin bahasa Inggris di depan kelas, menerjemahkan bahasa, mengurus pemerintahan daerah, sampai membahas kepentingan publik di Senayan.
Dari papan tulis ke kursi parlemen. Lumayan jauh juga muternya.
