Manusiasenayan.id – Masalah stunting nggak bisa cuma diberesin dengan urusan makanan bergizi. Ada persoalan lain yang ikut bermain di belakangnya, mulai dari kemiskinan, kesehatan, sampai pendidikan. Karena itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, mendorong penanganan stunting secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Menurut Yandri, pemerintah nggak boleh cuma fokus pada dampak stunting, tetapi juga harus berani membongkar akar masalahnya. Apalagi, kondisi ekonomi keluarga dan lingkungan tempat anak tumbuh punya pengaruh besar terhadap pemenuhan kebutuhan gizi mereka.
Hal tersebut disampaikan Yandri saat membuka Rapat Koordinasi Monitoring dan Evaluasi (Rakor Monev) Pusat dan Daerah Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Desa Wilayah Provinsi Banten, Selasa (3/11/2026), di Pendopo Gubernur Banten.
“Kami di Kemendes melihat stunting bukan sekadar kurang gizi tapi ada di balik itu yang perlu kami tuntaskan. Untuk penurunan stunting harus dimulai dari hulunya di antaranya sektor kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan,” ujar Yandri dalam keterangan tertulis.
Ia menjelaskan, salah satu cara paling penting untuk menekan stunting adalah memperkuat ekonomi masyarakat desa. Logikanya sederhana, kalau ekonomi desa bergerak, lapangan kerja terbuka, dan warga punya penghasilan, beban ekonomi keluarga bisa ikut berkurang.
Ketika kebutuhan hidup lebih terpenuhi, orang tua juga punya peluang lebih besar untuk memberikan asupan gizi dan lingkungan yang layak bagi anak-anaknya.
“Kalau ada aktivitas ekonomi di desa, kemudian orang bisa bekerja, kemudian bisa mendatangkan pendapatan, maka kemiskinan bisa ditekan, kalau kemiskinan bisa ditekan insyaallah stunting bisa kita tekan,” jelasnya.
Buat Yandri, urusan stunting bukan sekadar program kesehatan biasa. Penanganannya juga menjadi bagian dari prioritas nasional untuk menyiapkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Sebab, kekayaan alam Indonesia bakal sulit dimaksimalkan kalau nggak dibarengi SDM yang unggul.
Karena itu, Kemendes PDT terus mengajak berbagai kementerian dan lembaga untuk turun tangan. Yandri menyebut, penurunan stunting membutuhkan kerja sama besar alias super team, bukan kerja sendirian.
Beberapa pihak yang perlu terlibat di antaranya Kemendagri, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
“Harusnya anak-anak dilindungi, kita perlu super team. Jadi untuk penurunan stunting ini ya ada Kemendagri, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sejatinya kepentingan kita semua. Kita harus terlibat, keterlibatan itu harus pakai hati,” paparnya.
Senada dengan Yandri, Wakil Gubernur Banten, A. Dimyati Natakusumah, juga menegaskan pentingnya memperhatikan masa depan anak-anak. Menurutnya, anak-anak merupakan investasi terbesar bangsa yang nantinya bakal menentukan arah Indonesia ketika memasuki usia 100 tahun kemerdekaan.
Apalagi, generasi muda sekarang akan menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan zaman yang semakin kompleks. Makanya, mereka perlu dipersiapkan sejak dini agar bisa tumbuh lebih hebat dan mampu membawa Indonesia semakin maju.
Kolaborasi penurunan stunting yang sudah berjalan di Banten pun bakal terus diperluas ke berbagai daerah. Pemerintah menargetkan angka stunting mencapai 17,5% pada 2026, kemudian turun menjadi 16,3% pada 2027, 15,2% pada 2028, dan 14,2% pada 2029.
Sementara target jangka panjangnya adalah menekan angka stunting hingga 5% pada 2045. Jadi, membangun Indonesia Emas bukan cuma soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga memastikan generasi penerus tumbuh sehat dan punya masa depan yang lebih baik.
