ManusiaSenayan.id– Di NTB, nama Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi itu udah kayak “brand besar”: dikenal sebagai ulama sekaligus gubernur dua periode yang bantu ngangkat NTB ke panggung nasional.
Sekarang, estafet itu pelan-pelan geser ke pundak putra sulungnya, H. Muhammad Rifki Farabi – ustaz muda, Ketua Umum Pemuda NWDI, dan anggota DPD/MPR RI dapil NTB periode 2024–2029.
Buat banyak orang, Farabi mungkin kelihatan kayak “anak tokoh besar yang turun gunung”. Tapi dari cara dia ngomong dan bergerak, kelihatan banget kalau dia lagi berusaha ngejalanin politik sebagai “warisan perjuangan”, bukan cuma warisan nama keluarga.
Jejak TGB, Peta Jalan bagi Sang Anak
Sebelum bahas Farabi lebih jauh, kita mundur dikit ke sosok TGB.
TGB adalah ulama lulusan Al-Azhar Kairo yang kemudian jadi anggota DPR RI (2004–2008) dan Gubernur NTB dua periode (2008–2018).
Di zamannya, NTB dikenal dengan program pendidikan, pengentasan kemiskinan, sampai pariwisata—Lombok naik pamor banget. TGB jadi contoh nyata kalau santri bisa main di panggung politik tanpa kehilangan identitas keulamaannya.
Di bagian keluarga di biografi resmi TGB, nama Muhammad Rifki Farabi tercatat sebagai anak pertama dari empat bersaudara.
Artinya, dari kecil Farabi tumbuh di lingkungan yang isinya kitab, tamu politik, dan kultur pesantren NWDI – kombo yang sekarang kebaca jelas di gaya pikir dan geraknya.
Santri Al-Azhar, Ketua Pemuda NWDI
Secara pendidikan formal, Farabi lahir di Jakarta, sekolah dasar di SDN 1 Ampenan, Mataram, lanjut ke MTs Mu’allimin NW Pancor, lalu SMA Islam As-Syafi’iyah, jurusan IPA.
Banyak media lokal dan kanal NWDI nyebutin dia sebagai ustaz muda jebolan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Di dunia organisasi, dia sekarang jadi Ketua Umum Pemuda Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (Pemuda NWDI) periode 2022–2026.
Dari posisi ini, Farabi sering ngomong ke anak muda soal kerukunan dan politik yang adem. Di momen Hari Sumpah Pemuda 2023 misalnya, dia ngingetin generasi muda buat jaga kesatuan di tengah beda pilihan politik, dan bilang:
“Menjaga perdamaian bukan hanya jadi tujuan kita bernegara, namun juga bagian dari tujuan kita beragama.”
Di kesempatan lain, sebagai Ketua Pemuda NWDI dia juga ngajak masyarakat NTB dukung perdamaian di Palestina, sambil tekankan kalau menghapus penjajahan itu perintah agama.
Kelihatan banget kalau buat dia, politik, gerakan pemuda, dan nilai dakwah itu satu paket, bukan dipisah-pisah.
Masuk DPD: Politik sebagai Warisan Perjuangan
Arah “warisan perjuangan TGB” makin kelihatan waktu Farabi resmi nyalon sebagai bakal calon DPD RI dapil NTB di 2022–2023.
Di beberapa wawancara, Farabi nyebut langkahnya maju ke DPD sebagai wujud khidmat ke masyarakat NTB, dan menjelaskan bahwa berpolitik adalah “warisan perjuangan yang menjadi titisan keluarga”.
Dia cerita, pilih jalur DPD itu bukan dadakan, tapi hasil diskusi panjang dengan TGB dan keluarga—nyari medan perjuangan yang paling cocok buat suara daerah dan umat.
Sekarang, di data resmi MPR dan DPD, Farabi tercatat sebagai:
- Anggota DPD RI dapil NTB periode 2024–2029, nomor anggota B-71
- Berasal dari fraksi DPD RI (non-partai)
- Punya rekam jejak organisasi sebagai Ketua Umum Pemuda NWDI
Di titik ini, pola TGB kelihatan banget: santri Al-Azhar → aktivis NWDI → parlemen nasional. Bedanya, kali ini generasinya generasi akhir 90-an, yang sehari-hari juga hidup bareng medsos dan timeline digital.
Cara Farabi “Menerjemahkan” Warisan TGB
Yang menarik, Farabi nggak cuma “nebeng” nama besar TGB. Di awal masa jabatannya sebagai senator, ada beberapa isu yang dia gas cukup serius:
- Ngomel soal Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang Bikin Keracunan
Waktu ada kasus keracunan siswi SMK di Lombok Timur gara-gara program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Farabi jadi salah satu suara yang paling tegas.
Di siaran pers resmi DPD RI, dia menegaskan: “Keselamatan masyarakat adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.” Dia dorong pengawasan superketat dan standar dapur umum MBG yang lebih serius, terutama di daerah terpencil. Di wawancara lain, dia ngingetin dapur MBG jangan terlalu jauh dari sekolah, supaya distribusi makan bergizi ke daerah 3T di NTB tetap realistis dan tepat sasaran. - Seribu Beasiswa untuk Pelajar NTB
Belum lama duduk sebagai senator, Farabi sudah tercatat menyalurkan 1000 beasiswa pendidikan untuk pelajar NTB, dari SD sampai perguruan tinggi, lewat program PIP dan KIP yang dia dorong bareng kementerian terkait.
Dia menegaskan dari awal bahwa pendidikan adalah prioritas perjuangan, terutama buat keluarga kurang mampu supaya anak-anak mereka nggak harus putus sekolah.
- PON 2028 dan Momentum NTB
Di bidang olahraga dan ekonomi, Farabi ikut dukung NTB sebagai tuan rumah PON 2028 (bersama NTT).
Dia nyebut ajang ini sebagai “momentum yang tidak datang dua kali” dan dorong NTB buat benar-benar siap, baik dari sisi ekonomi lokal, peluang UMKM, maupun prestasi atlet daerah. - Bahasa Politik ke Anak Muda
Di banyak kesempatan, Farabi sering highlight dirinya sebagai bagian dari generasi milenial/Gen Z yang pengin ngasih kemanfaatan untuk semua, sambil ngajak anak muda supaya nggak alergi politik.
Pesannya kira-kira: politik itu memang keras, tapi masih bisa dijalani dengan cara yang santun, bernilai, dan tetap relevan sama hidup sehari-hari.
Kalau ditarik garis, gaya ini cukup mirip TGB: tone moderat, narasi keumatan kuat, isu yang dipegang praktis dan dekat ke warga – dari gizi pelajar, beasiswa, sampai event olahraga nasional.
Warisan yang Lagi Di-Upgrade
Jadi, kalau kita pakai tema “Muhammad Rifki Farabi: Warisan Perjuangan Politik TGB”, yang lagi diomongin bukan sekadar anak yang ikut jejak ayah.
- TGB: santri Al-Azhar yang ngebuktiin kalau ulama bisa memimpin provinsi dan berperan di level nasional.
- Farabi: santri Al-Azhar generasi 1998 yang lagi berusaha buktiin kalau politik tetap bisa jadi ladang khidmat, selama isunya konkret, dekat dengan rakyat, dan cara komunikasinya nyambung ke anak muda.
Warisan yang dia bawa kira-kira kombinasi:
kitab + mimbar + parlemen – tiga ruang yang dulu ditempuh TGB, dan sekarang pelan-pelan lagi di-upgrade sama Farabi.
Ke depan, tinggal generasi muda NTB (dan Indonesia) yang bakal menilai:
apakah warisan perjuangan TGB di tangan Farabi bakal jadi bab baru yang lebih kuat, atau cuma pengulangan nama besar tanpa isi.
