ManusiaSenayan.id Di timeline penuh bahasan startup, kripto, dan kerja remote, ada satu lini perjuangan yang jarang muncul: UMKM di daerah kepulauan. Di Kepulauan Riau, banyak pelaku usaha kecil jalan terus di antara cuaca yang susah ditebak, akses bank yang jauh, dan modal yang serba mepet. Di tengah realita itu, nama Dwi Ajeng Sekar Respaty, S.H., M.Kn. — Sekar — makin sering kedengeran.

Sekar bukan cuma “anak tokoh besar” atau “pemain baru” di politik. Dia perempuan yang milih jalur serius: duduk di DPD RI mewakili Kepri periode 2024–2029 dan fokus di isu keuangan negara, koperasi, dan UMKM. Jadi kalau ngomongin Sekar, kita nggak cuma bahas jabatan, tapi gimana keputusan di Senayan bisa nyentuh warung, kios, dan usaha rumahan di pulau-pulau.

Dari Jogja ke Kepri

Sekar lahir di Yogyakarta, 26 Desember 1985. Background pendidikannya lumayan “berat”: Sarjana Hukum dan Magister Kenotariatan. Bukan jurusan yang estetik buat dipajang di bio Instagram, tapi ini yang bikin dia ngerti aturan main: kontrak, regulasi, sampai legalitas bisnis.

Ia maju sebagai calon anggota DPD RI dari Dapil Kepulauan Riau dan lolos dengan perolehan suara besar. Untuk ukuran pemain baru di DPD, itu bikin banyak orang mulai melirik. Publik memang sudah kenal ayahnya, Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, mantan Wakil Gubernur Kepri. Tapi dari cara dia bergerak, kelihatan Sekar lagi bangun brand sendiri: bukan cuma nerusin nama, tapi nerusin perjuangan yang relevan buat generasi sekarang.

Satu-satunya Perempuan di Arena

Waktu nyaleg DPD, Sekar sempat jadi satu-satunya perempuan dari Kepri yang maju. Di tengah lautan nama laki-laki dan figur senior, kehadirannya langsung jadi simbol: perempuan Kepri punya suara di lembaga tinggi negara.

Tapi jadi simbol doang jelas nggak cukup. Sekar bawa harapan supaya ada sosok perempuan yang paham lapangan, ngerti realita UMKM, dan berani ngomong soal keuangan dengan gaya yang nggak kaku. Identitasnya sebagai perempuan jadi modal, karena banyak UMKM di Kepri digerakkan perempuan: ibu-ibu pemilik warung, pengelola usaha rumahan, sampai pebisnis online skala kecil.

Komite IV dan Perjuangan UMKM

Di DPD RI, Sekar duduk di Komite IV, komite yang ngurus APBN, pajak, perimbangan keuangan pusat–daerah, lembaga keuangan, koperasi, dan UMKM. Bahasa simpelnya: inilah meja di mana arah uang dan kebijakan ekonomi daerah banyak ditentuin.

Dari posisi ini, Sekar ikut mengawasi penempatan dana pemerintah di perbankan dan dorong supaya pembiayaan beneran turun ke pelaku UMKM, bukan cuma ke pemain besar di kota. Ia vokal soal pentingnya akses modal yang inklusif, terutama buat pengusaha mikro di pulau-pulau yang bahkan kadang nggak punya kantor bank dekat rumah.

Sekar juga sering angkat isu pinjaman online ilegal dan literasi keuangan. Buat banyak pelaku usaha kecil, klik “setuju” di aplikasi pinjol bisa jadi keputusan paling mahal. Sekar mendorong perlindungan konsumen dan akses pembiayaan formal yang lebih manusiawi, biar pelaku UMKM punya jalan lain selain utang berbunga sadis.

Koperasi juga dapat spotlight. Di mata Sekar, koperasi idealnya bukan sekadar papan nama dan acara peresmian, tapi beneran jadi rumah bersama buat UMKM: tempat cari modal, belajar, dan naik kelas bareng.

Dari Ruang Sidang ke Ruang Kelas

Hal yang bikin Sekar relate buat generasi muda adalah cara dia nggak cuma nongol di ruang sidang. Ia turun ke sekolah-sekolah buat sosialisasi Empat Pilar, ngobrol sama pelajar dan mahasiswa soal kebangsaan dan peluang ekonomi di era digital. Di situ, isu UMKM dan usaha lokal sering nyempil: gimana anak muda bisa mulai usaha kecil, bantu bisnis keluarga, atau minimal melek keuangan biar nggak gampang kejebak pinjol.

Ia juga buka ruang dialog dengan organisasi mahasiswa dan komunitas diskusi. Dari situ kelihatan kalau akses ke wakil daerah di Senayan sebenarnya nggak sejauh yang dibayangin.

Perempuan di Garis Depan

Akhirnya, label “perempuan di garis depan perjuangan UMKM Kepri” buat Sekar bukan cuma kalimat manis di poster. Ia duduk di komite yang ngurus hal krusial, fokus di isu yang langsung nyentuh dapur banyak keluarga, dan berusaha nyambungin dunia kebijakan yang kompleks dengan realita pelaku usaha kecil di kepulauan.

Perjalanannya masih panjang dan hasilnya nggak instan. Tapi buat UMKM Kepri dan anak muda yang lagi cari role model di politik, sosok Dwi Ajeng Sekar Respaty nunjukkin satu hal penting: perempuan bukan cuma bisa berdiri di depan etalase toko, tapi juga di depan meja kebijakan yang ngatur masa depan ekonomi daerahnya.