Manusiasenayan.id – Cerita Angelius Wake Kako nggak dimulai di gedung megah Senayan. Ia lahir dan besar di Woloora, Nangaba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)—sebuah wilayah yang sering disebut dalam peta, tapi belum selalu hadir penuh dalam kebijakan nasional. Dari sanalah cara pandangnya tentang daerah, keadilan, dan perjuangan dibentuk.
Angelius—atau akrab disapa Angelo—mengambil jurusan Matematika di Universitas Flores (Unflor) Ende. Tapi jangan bayangin mahasiswa yang cuma sibuk hitung angka. Di kampus, ia justru dikenal super aktif.
Dari Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Matematika, naik jadi Presiden Mahasiswa, lalu dipercaya sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unflor Ende. Aktivisme kampus jadi pintu awalnya memahami kepemimpinan dan tanggung jawab publik.
Tahun 2012, Angelo memikul peran lebih besar sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende. Setelah sempat mengabdi sebagai dosen muda selama setahun, ia melangkah lebih jauh. Pengalaman di daerah justru jadi bahan bakar untuk naik kelas ke level nasional.
Pada 2 Januari 2014, Angelo berangkat ke Jakarta dan bergabung sebagai Pengurus Pusat PMKRI—sebuah fase penting yang membentuk jejaring, perspektif, dan mental politiknya.
Di tengah padatnya aktivitas organisasi, Angelo nggak meninggalkan urusan akademik. Ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia (UI), mengambil Ilmu Ketahanan Nasional. Menariknya, fase ini berjalan paralel dengan kepemimpinannya di PMKRI.
Di akhir masa jabatannya sebagai Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI, Angelo mencatatkan momen bersejarah: ia menggandeng Presiden Joko Widodo ke Palembang sebagai presiden pertama yang membuka langsung Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PMKRI se-Indonesia. Bagi banyak orang, itu bukan cuma simbol, tapi bukti kemampuan komunikasi politik lintas level.
Pengalaman panjang dari kampus, organisasi, hingga nasional akhirnya bermuara ke Senayan. Kini, Angelius Wake Kako resmi menjadi Anggota DPD RI Periode 2024–2029, mewakili Nusa Tenggara Timur, dengan perolehan 362.645 suara. Angka itu bukan sekadar statistik—tapi cerminan kepercayaan publik pada sosok yang tumbuh dari bawah dan paham betul realitas daerah.
Di DPD RI, Angelo membawa napas aktivisme ke ruang kebijakan. Isu pembangunan daerah, ketimpangan pusat–daerah, dan kehadiran negara di kawasan timur jadi benang merah perjuangannya. Buatnya, senator bukan sekadar jabatan, tapi posisi strategis untuk memastikan suara NTT nggak lagi berada di pinggir diskusi nasional.
Di tengah politik yang sering terasa jauh dari anak muda, cerita Angelius Wake Kako terasa dekat. Dari Flores ke Jakarta, dari kampus ke Senayan, jalannya panjang dan penuh proses. Ia jadi pengingat bahwa politik daerah bukan kelas dua—dan bahwa suara dari timur layak didengar, diperjuangkan, dan diperhitungkan.
