ManusiaSenayan.idUMP 2026 resmi naik di seluruh provinsi. Kenaikannya ada di kisaran 5–7 persen. Buat sebagian orang: “Alhamdulillah naik.” Buat sebagian lainnya: “Naiknya ada, tapi kok vibes-nya kayak diskon 5% pas lagi butuhnya 50%?”

Nah, Anggota Komisi IX DPR RI Tutik Kusuma Wardhani ikut angkat suara. Intinya, beliau ngajak semua pihak buat bijak dan cari jalan tengah—biar buruh nggak merasa ditinggal, tapi industri juga nggak langsung “shutdown” kayak HP kepanasan.

Tutik bilang, aspirasi pekerja untuk UMP naik lebih tinggi itu valid dan patut dihargai. Bahkan beliau menegaskan, “Saya hargai keinginan dari para pekerja untuk kenaikan UMP ini,” ujarnya kepada Parlementaria di Gedung Nusantara II, Senayan, Selasa (13/1/2026).

Tapi, plot twist-nya: kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Industri, kata dia, masih kesulitan, jadi kemampuan buat naikin upah lebih tinggi itu juga terbatas. “Industri juga sedang mengalami kesulitan,” jelasnya. Ibaratnya pengin traktir satu geng, tapi saldo tinggal cukup buat es teh.

Karena itu, beliau ngajak semua pihak cari solusi yang adil. Bukan adu kuat, tapi adu sehat: siapa yang paling mau kompromi. “Cari win-win solution,” tegasnya.

Menurutnya, buruh dan industri saling membutuhkan. Jadi di kondisi global yang lagi penuh tantangan, perlu saling memahami terlebih dahulu. “Untuk sementara, saya kira harus saling dipahami dulu,” katanya.

Tutik juga menambahkan Komisi IX DPR RI bakal terus memikirkan isu ini karena berkaitan langsung dengan pekerja.

Selain soal UMP, beliau menyinggung program makan bergizi gratis sebagai upaya merespons inflasi dan mendorong ekonomi desa. “Mulai dari desa kita bangun ekonomi agar dampaknya lebih luas,” tutupnya.