Manusiasenayan.id – Viralnya pernyataan alumni LPDP berinisial DS yang bilang, “cukup aku WNI, anak jangan,” langsung bikin jagat maya panas. Komentar itu menuai pro dan kontra, apalagi karena status DS sebagai penerima beasiswa negara. Anggota Komisi XI DPR RI, Melchias Markus Mekeng, ikut buka suara dan menilai pernyataan tersebut tak etis.
Mekeng menegaskan, menerima LPDP itu bukan hal biasa. Itu adalah keberuntungan besar karena dibiayai oleh negara lewat APBN—yang sumbernya dari rakyat Indonesia, dari Papua sampai Aceh. Artinya, ada uang rakyat di sana yang dipakai untuk mendukung pendidikan para penerima beasiswa.
“Dapat beasiswa itu satu keberuntungan. Dan itu uangnya dari negara, dari rakyat juga. Jadi mestinya ada rasa,” tegas Mekeng, Minggu (22/2/2026).
Menurutnya, setiap orang memang punya hak menentukan kewarganegaraan. Negara nggak bisa melarang seseorang memilih jadi warga negara mana pun. Tapi, kata dia, pilihan itu nggak perlu diumbar dengan narasi yang terkesan merendahkan Indonesia.
Soal Etika dan Rasa Bangga
Mekeng menilai ucapan DS seolah menggambarkan Indonesia sebagai bangsa kelas bawah. Padahal, Indonesia punya banyak hal yang patut dibanggakan. Dari budaya, adat istiadat, sampai warisan leluhur yang jadi identitas bersama.
“Kita punya kebanggaan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Jangan merendahkan bangsa sendiri dengan statement yang menurut saya tidak pantas,” ujarnya.
Ia menekankan, menyampaikan opini di ruang publik perlu mempertimbangkan etika. Terlebih bagi mereka yang pernah mendapat fasilitas pendidikan dari negara seperti LPDP. Menurut Mekeng, pernyataan bernada satir, miris, atau nyinyir hanya akan melukai perasaan banyak orang.
Bagi Mekeng, bersyukur adalah kunci. Nggak semua orang punya kesempatan yang sama untuk lolos LPDP. Banyak yang ingin, tapi belum tentu bisa dapat. Karena itu, ia berharap DS bisa lebih bijak dalam menyampaikan pandangan.
“Kalau sudah dapat, ya bersyukur. Tidak perlu membuat statement yang nyinyir, apalagi merendahkan bangsanya,” tegasnya lagi.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan mobilitas warga negara, isu kewarganegaraan memang jadi pilihan personal. Tapi, menurut Mekeng, menjaga martabat bangsa tetap penting. Kritik boleh, pilihan boleh, tapi rasa hormat terhadap tanah air juga jangan hilang.
