Manusiasenayan.id – Di tongkrongan politik yang sering terasa eksklusif dan penuh “jarak aman”, sosok Hj. Happy Farida Djarot datang dengan gaya yang lebih santai—nggak banyak gimmick, tapi tetap punya arah. Bukan tipe yang tiba-tiba muncul lalu hilang, Happy justru pelan tapi pasti ngebangun pijakan di dunia yang selama ini identik sama formalitas.

Perempuan yang lahir di Surabaya, 03 Juni 1969 ini sebenarnya bukan wajah baru di ruang publik. Lulusan S1 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini sudah lama terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan organisasi, terutama yang dekat dengan masyarakat akar rumput. Dari sini, dia paham satu hal: kerja nyata itu nggak selalu harus disorot, tapi harus terasa.

Namanya makin dikenal publik saat mendampingi suaminya, Djarot Saiful Hidayat, dalam berbagai fase kepemimpinan—dari daerah sampai ibu kota. Tapi Happy nggak berhenti sebagai “pendamping”. Dia ikut turun langsung, pegang peran strategis di berbagai organisasi. Mulai dari Ketua TP PKK Kota Blitar, Ketua Dekranasda Kota Blitar, sampai dipercaya jadi Penasihat Dharma Wanita Provinsi DKI Jakarta.

Puncaknya, saat di Jakarta, dia menjabat sebagai Ketua TP PKK Provinsi DKI Jakarta sekaligus Ketua Dekranasda Provinsi DKI Jakarta. Di fase ini, Happy makin kelihatan karakternya: fokus ke pemberdayaan keluarga, UMKM, dan peran perempuan dalam ekonomi lokal. Bukan konsep besar yang ribet, tapi langkah konkret yang bisa langsung dirasain dampaknya.

Dan kemudian, 2024 jadi titik balik. Happy ambil langkah yang bisa dibilang cukup berani—maju sebagai calon anggota DPD RI dari DKI Jakarta. Di dapil yang keras dan penuh kompetisi, dia nggak sekadar numpang lewat. Hasilnya? 656.815 suara sah, angka yang nggak kecil dan cukup buat mengantarkannya duduk sebagai Anggota DPD RI periode 2024–2029 dari Dapil DKI Jakarta.

Yang menarik, gaya politik Happy tetap konsisten: sederhana, dekat, dan nggak neko-neko. Isu yang dia bawa juga nggak jauh dari kebutuhan warga—pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, sampai isu perkotaan yang selalu jadi PR Jakarta.

Di tengah generasi yang makin skeptis sama politik, Happy seperti ngasih alternatif narasi: bahwa politik bisa tetap manusiawi. Nggak harus selalu kaku, nggak harus selalu penuh jargon. Kadang, cukup hadir, dengerin, dan kerja.

Dan mungkin itu yang bikin dia tetap relevan—di ruang formal maupun di obrolan santai anak tongkrongan.