Manusiasenayan.id – Wacana pemotongan gaji menteri dan pejabat negara lagi ramai dibahas. Di tengah situasi global yang lagi nggak santai gara-gara konflik Timur Tengah, pemerintah mulai cari cara buat hemat anggaran. Salah satu opsinya: potong gaji pejabat.

Anggota Komisi II DPR RI, Ali Ahmad, ikut angkat suara. Menurut dia, wacana ini bukan sekadar soal angka, tapi lebih ke pesan moral dari para pemimpin ke rakyat.

“Kalau rakyat diminta siap hadapi dampak ekonomi, pejabat juga harus siap ikut berkorban,” kata Ali Ahmad.

Buat Ali, langkah ini punya nilai simbolik yang kuat. Artinya, pemerintah ingin nunjukin kalau mereka juga ikut merasakan situasi sulit yang dihadapi masyarakat. Tapi di sisi lain, dia juga realistis—secara fiskal, dampaknya ke APBN nggak bakal terlalu besar.

Makanya, Ali menegaskan bahwa kebijakan ini jangan dianggap sebagai solusi utama ekonomi. Lebih tepat dilihat sebagai bentuk kepemimpinan moral, bukan sekadar kebijakan teknis.

Ia juga mengingatkan, konflik geopolitik di Timur Tengah bisa berdampak luas—mulai dari harga energi global yang naik, gangguan rantai pasok, sampai tekanan ke ekonomi nasional. Indonesia pun nggak bisa lepas dari efek domino ini.

Karena itu, Ali mendorong agar wacana penghematan ini nggak berhenti di pemotongan gaji saja. Menurutnya, harus ada gerakan yang lebih luas, yaitu disiplin fiskal nasional.

“Penghematan harus menyentuh banyak hal, dari efisiensi belanja kementerian, penajaman prioritas program, sampai pengendalian pemborosan anggaran,” jelas politisi PKB tersebut.

Kalau kebijakan ini benar-benar dijalankan, Ali melihat ini bisa jadi contoh nyata kepemimpinan yang kasih teladan, bukan cuma sekadar aturan di atas kertas.

Meski begitu, dia menekankan hal yang jauh lebih penting: memastikan APBN tetap kuat buat melindungi masyarakat. Terutama kelompok rentan, pelaku UMKM, dan sektor produktif yang paling kena dampak gejolak global.

Selain itu, Ali juga menyoroti pentingnya transparansi ke publik. Menurutnya, komunikasi yang jelas bakal bikin kebijakan ini nggak disalahpahami, tapi justru dilihat sebagai bentuk kebersamaan nasional menghadapi krisis.

Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Ali melihat ini sebagai momentum buat berbenah. Mulai dari memperkuat reformasi anggaran, meningkatkan efisiensi birokrasi, sampai memastikan setiap rupiah dari APBN benar-benar berdampak ke rakyat.

“Intinya, setiap kebijakan harus balik lagi ke satu tujuan: kasih manfaat maksimal buat masyarakat,” tegasnya.