Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin soal pendidikan, sekarang bukan cuma soal pintar atau enggak, tapi juga soal akses yang adil buat semua. Nah, Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, lagi mendorong hal penting nih: penguatan pendidikan inklusif lewat peningkatan skill para guru.

Menurut Lestari, kualitas pendidikan itu harus bisa dirasain semua anak, termasuk mereka yang punya kebutuhan khusus. Makanya, dia menekankan kalau jumlah guru yang punya kemampuan mendidik anak berkebutuhan khusus harus segera ditambah. Bukan nanti-nanti, tapi harus direalisasikan sekarang juga.

“Kalau kita mau pendidikan yang berkualitas dan merata, ya gurunya juga harus siap. Terutama yang bisa handle anak-anak berkebutuhan khusus,” kurang lebih begitu poin yang disampaikan Lestari.

Data dari Kemendikdasmen per September 2025 juga cukup bikin mikir. Tercatat ada 363.921 murid disabilitas di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, sekitar 199.375 murid sudah belajar di lebih dari 60 ribu sekolah inklusif.

Kedengarannya udah lumayan ya? Tapi masalahnya, cuma sekitar 15% sekolah yang punya Guru Pembimbing Khusus (GPK). Sisanya? Masih belum punya tenaga pendamping yang benar-benar paham kebutuhan siswa disabilitas. Ini jelas jadi hambatan besar buat mewujudkan pendidikan yang setara dan inklusif.

Lestari, yang juga Wakil Ketua MPR RI dan akrab disapa Rerie, menegaskan kalau pemerintah harus konsisten nambah jumlah GPK. Nggak cukup cuma wacana—harus ada langkah nyata dan terukur.

Kabar baiknya, pemerintah juga berencana kasih pembekalan khusus buat para guru tahun ini. Tujuannya jelas: biar guru-guru punya skill yang cukup buat mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah.

Tapi Rerie juga ngingetin, urusan pendidikan inklusif ini nggak bisa cuma dibebanin ke pemerintah pusat aja. Perlu banget ada kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, sampai masyarakat. Semua harus ikut ambil peran.

“Kalau mau cepat tercapai, ya harus gotong royong. Semua pihak harus jalan bareng,” tegasnya.

Intinya, pendidikan inklusif bukan sekadar program, tapi bentuk nyata dari keadilan sosial. Semua anak, tanpa kecuali, berhak dapat pendidikan yang layak. Dan itu dimulai dari guru yang siap, sistem yang kuat, dan dukungan dari semua pihak.