Manusiasenayan.id – Wacana sekolah kembali full online alias daring lagi mulai rame dibahas. Tapi, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, langsung kasih sinyal: jangan buru-buru ambil keputusan.
Menurut Esti, Indonesia sebenarnya sudah punya “pengalaman mahal” soal belajar daring saat pandemi Covid-19. Dan jujur aja, hasilnya nggak sepenuhnya positif. Banyak problem serius yang muncul dan sampai sekarang masih terasa dampaknya.
“Daring itu pernah kita jalani. Tapi kita juga tahu, dampaknya nggak sederhana buat dunia pendidikan,” kira-kira begitu poin yang disampaikan Esti.
Kalau ditarik ke belakang, masa pandemi memang memaksa semua siswa belajar dari rumah. Tapi di balik fleksibilitas itu, muncul berbagai tantangan. Mulai dari kesulitan memahami materi, turunnya disiplin belajar, sampai masalah teknis kayak jaringan internet dan keterbatasan perangkat.
Nggak cuma itu, Esti juga menyoroti soal pembentukan karakter yang jadi kurang maksimal saat pembelajaran jarak jauh. Padahal, sekolah bukan cuma soal nilai akademis, tapi juga soal pembentukan sikap dan kebiasaan.
Salah satu dampak paling kerasa dari sistem daring adalah fenomena learning loss. Ini kondisi di mana siswa jadi kehilangan semangat belajar, bahkan cenderung “jauh” dari dunia pendidikan. Banyak anak yang akhirnya tertinggal materi dan butuh waktu lama buat ngejar ketertinggalan.
Esti menilai, penurunan ini bukan sekadar asumsi. Dari berbagai pemantauan, terlihat jelas bahwa kemampuan kognitif siswa menurun setelah periode panjang belajar online.
Belum lagi kalau ngomongin soal dampak non-akademik. Sistem daring juga berpengaruh ke kesehatan mental dan fisik anak. Kurang interaksi sosial, terlalu lama di depan layar, sampai rasa jenuh jadi masalah yang nggak bisa dianggap sepele.
Makanya, Esti menegaskan satu hal penting: pendidikan anak nggak boleh jadi korban kebijakan. Apapun alasannya, termasuk tekanan ekonomi global atau kenaikan harga minyak, solusi yang diambil harus tetap berpihak ke kualitas pendidikan.
Menurutnya, pemerintah masih punya banyak opsi lain yang bisa dipertimbangkan tanpa harus kembali ke skema daring penuh. Intinya, kebijakan harus dikaji secara matang, bukan sekadar reaktif terhadap situasi.
Di tengah kondisi global yang lagi nggak stabil, keputusan soal pendidikan memang nggak gampang. Tapi satu hal jelas: masa depan generasi muda nggak bisa dipertaruhkan.
