Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin sosok politisi muda yang lagi naik level di Senayan, nama Endipat Wijaya jelas nggak bisa dilewatin. Selain dikenal sebagai Kapoksi Komisi I DPR RI, Endipat juga punya latar belakang pendidikan yang solid dan nggak kaleng-kaleng.

Perjalanan hidupnya dimulai dari Bengkulu. Ia mengenyam pendidikan dasar di SDN 19 Bengkulu, lalu lanjut ke SLTPN 2 Bengkulu. Dari sini aja udah keliatan fondasi awalnya cukup kuat. Tapi titik yang mulai bikin profilnya makin menarik adalah saat ia berhasil masuk ke SMA Taruna Nusantara—sekolah yang dikenal disiplin dan jadi “kawah candradimuka” banyak tokoh nasional.

Setelah itu, Endipat melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada periode 2002–2006. Lingkungan akademik ITB yang dikenal kritis dan progresif ikut membentuk cara berpikirnya. Nggak berhenti di situ, ia juga memperdalam ilmunya di Swiss German University (2016–2019), yang menunjukkan kalau ia punya komitmen kuat buat terus upgrade kapasitas diri.

Menariknya, meskipun data soal pekerjaan, organisasi, dan penghargaan belum banyak terekspos ke publik, Endipat justru langsung “tancap gas” di dunia politik nasional. Saat ini, ia duduk di Komisi I DPR RI, komisi yang membidangi isu-isu strategis seperti pertahanan, hubungan luar negeri, komunikasi, dan intelijen.

Di sini perannya nggak main-main. Sebagai Kapoksi (Ketua Kelompok Fraksi), Endipat punya tanggung jawab besar buat mengoordinasikan sikap politik fraksinya dalam berbagai pembahasan penting. Artinya, ia ikut menentukan arah keputusan dalam isu-isu yang berkaitan langsung dengan kedaulatan negara.

Selain di Komisi I, ia juga tercatat terlibat dalam beberapa alat kelengkapan dewan lainnya seperti Panitia Khusus dan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN). Keterlibatan ini nunjukin kalau perannya nggak cuma fokus di satu lini, tapi juga ikut mengawal isu-isu strategis lain, termasuk soal pengawasan keuangan negara.

Yang bikin Endipat beda adalah cara dia membawa diri. Di tengah politik yang sering terasa kaku dan formal, ia hadir dengan pendekatan yang lebih cair tapi tetap tegas. Gaya komunikasinya cukup relate, terutama buat generasi muda yang mulai peduli sama isu kebangsaan tapi pengen bahasa yang lebih “ngena”.

Meski belum banyak sorotan soal perjalanan organisasi atau penghargaan, posisinya saat ini sudah cukup menggambarkan kapasitasnya. Ia adalah representasi politisi muda yang tumbuh dari kombinasi pendidikan kuat, pengalaman strategis, dan keberanian mengambil peran di level nasional.

Singkatnya, Endipat Wijaya bukan sekadar nama baru di DPR. Ia adalah bagian dari generasi baru yang siap membawa perspektif segar dalam politik Indonesia—lebih adaptif, lebih dekat ke publik, tapi tetap punya pijakan kuat dalam isu-isu besar negara.