Manusiasenayan.id – Situasi global lagi nggak santai. Konflik Timur Tengah yang makin panas bikin banyak pihak mulai was-was, terutama soal pasokan energi dunia. Efeknya? Harga minyak mentah bisa melonjak tajam, dan ini jelas bukan kabar baik buat Indonesia.
Anggota Komisi XII DPR RI, Meitri Citra Wardani, langsung angkat suara. Ia mendorong pemerintah buat gerak cepat dengan strategi mitigasi berlapis—nggak cuma dari dalam negeri, tapi juga lewat jalur internasional. Menurutnya, kondisi ini bisa jadi ancaman serius kalau nggak diantisipasi dari sekarang.
Salah satu langkah yang disorot adalah pengendalian konsumsi energi domestik. Meitri menilai, kalau harga minyak dunia sampai tembus US$200 per barel, dampaknya bakal gila-gilaan ke fiskal negara. Bahkan, setiap kenaikan US$1 per barel bisa bikin beban subsidi makin bengkak.
“Potensinya bisa tembus Rp884 triliun sampai Rp1.300 triliun untuk subsidi BBM. Ini jelas jadi tekanan berat buat APBN kita,” tegasnya.
Nah, buat ngatasin hal itu, Meitri mendorong penerapan kebijakan WFH (Work From Home) secara sektoral dan proporsional. Tapi santai, ini bukan berarti semua sektor harus berhenti aktivitas. Justru, WFH diposisikan sebagai strategi efisiensi energi, bukan penghambat ekonomi.
Fokusnya ada di sektor yang fleksibel—kayak administrasi pemerintahan non-pelayanan, sektor jasa, perkantoran swasta, keuangan, sampai teknologi informasi. Dengan begitu, mobilitas harian bisa ditekan tanpa mengganggu layanan publik.
Sementara itu, sektor penting seperti kesehatan, logistik, manufaktur, dan energi tetap jalan normal. Jadi, roda ekonomi tetap berputar.
Menurut perhitungan Meitri, kalau skema ini jalan, konsumsi BBM bisa ditekan sampai 20 persen. Angka ini bukan kecil, karena bisa jadi “bantalan” buat menjaga keuangan negara tetap aman.
“Ini langkah realistis buat ngurangi tekanan subsidi tanpa harus bikin ekonomi melambat,” jelasnya.
Nggak cuma dari dalam negeri, Meitri juga menekankan pentingnya diplomasi energi. Ia menyoroti posisi strategis Selat Hormuz yang jadi jalur vital distribusi minyak dunia. Kalau jalur ini terganggu, dampaknya bisa langsung terasa ke Indonesia.
Karena itu, pemerintah didorong buat memperkuat komunikasi dengan Iran, terutama demi memastikan keamanan kapal energi Indonesia yang melintas di sana.
Menariknya, Meitri melihat ada peluang diplomatik. Sikap Indonesia yang konsisten mendukung Palestina bisa jadi modal buat bangun kepercayaan dengan Iran.
“Iran menghargai negara yang punya sikap jelas. Ini bisa jadi leverage buat jaga kepentingan energi kita,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global, kombinasi antara efisiensi energi di dalam negeri dan langkah diplomasi di luar jadi kunci. Buat DPR, ini bukan sekadar opsi—tapi kebutuhan.
