Manusiasenayan.id – Di tengah dunia politik yang makin penuh pencitraan, sosok Ali Ahmad justru tampil kalem tapi ngena. Di tongkrongan politik Senayan, banyak yang kenal dia sebagai “Gus Ali” — politisi PKB yang nggak terlalu doyan drama, tapi cukup konsisten ngomongin keresahan rakyat kecil.

Lahir dari lingkungan pesantren di Karang Ploso, Malang, perjalanan hidup Ali Ahmad bisa dibilang lekat banget sama kultur Nahdlatul Ulama. Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Al Hidayah Karang Ploso, lalu lanjut ke MTS dan MA Al Hidayah di daerah yang sama. Setelah itu, ia melanjutkan studi hukum di UNISMA Malang. Background santri plus hukum ini yang bikin cara berpikirnya terkesan adem, tapi tetap kritis kalau ngomongin kebijakan negara.

Sebelum aktif di politik nasional, Gus Ali lebih dulu kenyang pengalaman sebagai pengusaha. Ia pernah menjadi Direktur di CV Rahmatullah Jaya Sejahtera dan CV Rahmatullah Jaya Abadi. Nggak heran kalau saat duduk di DPR RI, dia cukup paham soal problem ekonomi masyarakat bawah dan birokrasi yang sering bikin ribet pelaku usaha kecil.

Sekarang, Ali Ahmad dipercaya duduk di Komisi II DPR RI, komisi yang ngurusin pemerintahan dalam negeri, pertanahan, ASN, sampai pemilu. Selain itu, ia juga aktif di Panitia Khusus DPR. Di sinilah suara Gus Ali mulai sering jadi sorotan publik, terutama ketika membahas isu birokrasi yang dianggap makin jauh dari realita masyarakat.

Salah satu momen yang bikin namanya ramai diperbincangkan adalah ketika ribuan CPNS memilih mundur karena penempatan kerja yang terlalu jauh dari domisili. Saat banyak orang cuma debat di media sosial, Ali Ahmad menyebut fenomena itu sebagai “musibah nasional”. Menurutnya, negara nggak boleh bikin kebijakan asal jadi tanpa memikirkan dampak psikologis dan ekonomi anak muda Indonesia.

Bukan cuma soal ASN, Gus Ali juga beberapa kali vokal soal moral pejabat negara. Ia sempat mendukung wacana pemotongan gaji pejabat sebagai bentuk empati kepada rakyat di tengah situasi ekonomi yang berat. Buatnya, pemimpin itu bukan cuma soal jabatan, tapi juga soal keteladanan.

Di luar parlemen, Ali Ahmad juga aktif di berbagai organisasi. Ia menjadi Pembina Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN), Pembina Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPI), sekaligus Ketua Yayasan Al Hidayah Karang Ploso. Aktivitas ini makin memperlihatkan kalau dirinya memang dekat dengan dunia pendidikan, UMKM, dan komunitas akar rumput.

Buat generasi muda yang mulai melek politik, sosok Gus Ali jadi bukti kalau politik nggak harus selalu identik sama elite yang jauh dari rakyat. Kadang yang dibutuhkan cuma satu hal sederhana: pejabat yang berani ngomong jujur, ngerti denyut masyarakat bawah, dan tetap membumi meski duduk di kursi kekuasaan.