Manusiasenayan.id – Di tengah riuhnya politik yang kadang lebih banyak gimmick daripada substansi, nama Zulfikar Arse Sadikin muncul dengan gaya yang beda: low profile, tapi isinya nggak kaleng-kaleng. Tipe yang nggak banyak flex di depan kamera, tapi kerjaannya kerasa di dalam sistem.
Kalau ditarik ke belakang, fondasinya emang udah kebentuk dari lama. Arse kecil sekolah di Tulungagung, mulai dari SDN Karangwaru I, lanjut ke SMPN 1 Tulungagung, sampai SMAN Kauman Tulungagung. Nggak berhenti di situ, dia lanjut ke Universitas Gadjah Mada ambil Ilmu Pemerintahan, lalu naik level lagi ke Universitas Indonesia buat Ilmu Politik. Track-nya jelas: dari awal emang udah “niat main di negara”.
Masuk fase aktivisme, Arse bukan anak tongkrongan biasa. Dari zaman sekolah dia udah jadi Ketua OSIS, lalu di kampus makin serius—pernah jadi Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Tulungagung, sampai naik ke level nasional jadi Ketua PB HMI. Dari sini keliatan, dia bukan tipe yang nunggu momentum, tapi yang ngebangun momentum.
Karier profesionalnya juga nggak langsung “lompat” ke Senayan. Dia sempat jadi Direktur di Institute for Democracy and Walfarism (IDW), lalu nyemplung ke dunia kebijakan sebagai staf di Kemendagri. Setelah itu, masuk dapur politik sebagai Tenaga Ahli Fraksi Golkar di DPR RI selama hampir satu dekade. Posisi ini sering diremehkan, padahal justru di sinilah banyak keputusan strategis diracik.
Baru di 2019, Arse naik ke panggung utama sebagai Anggota DPR RI Dapil Jawa Timur III. Dan bukan sekadar duduk, dia langsung main di Komisi II DPR RI—komisi yang ngurus isu berat: pemilu, birokrasi, sampai otonomi daerah. Nggak selalu viral, tapi dampaknya langsung ke sistem negara.
Di internal partai, perannya juga nggak kecil. Dia pernah jadi Wasekjen DPP Golkar, ngurus kaderisasi, sampai ikut di tim pemenangan pemilu Jawa Timur. Intinya, dia bukan cuma “pemain lapangan”, tapi juga “arsitek strategi”.
Yang menarik, Arse ini kombinasi langka: aktivis, akademisi, sekaligus praktisi politik. Nggak heran kalau cara mainnya lebih taktis daripada dramatis. Di saat banyak politisi sibuk cari spotlight, dia justru fokus ngejaga mesin tetap jalan.
Kalau pakai bahasa tongkrongan: Arse itu bukan yang paling berisik di meja, tapi pas dia ngomong, semua denger. Dan di dunia politik yang sering over-noise, sosok kayak gini justru jadi penting—karena kerja nyata nggak selalu butuh panggung, tapi butuh konsistensi.
