Manusiasenayan.id – Di tengah hiruk-pikuk politik yang kadang terasa kayak panggung penuh gimmick, sosok H. Abdul Hamid, S.Pi., M.Si. justru hadir dengan vibe yang beda: kalem, nggak banyak gaya, tapi tetap jalan. Bukan tipe yang tiap hari wara-wiri di headline, tapi langkahnya konsisten—dan itu justru yang bikin dia relevan.
Lahir di Pangkalan Lesung, 28 Desember 1968, Hamid datang dari latar yang cukup “grounded”. Sebelum nyemplung lebih jauh ke dunia politik, dia sempat jadi jurnalis di Riau Pos—profesi yang bikin dia akrab sama realitas lapangan, bukan sekadar data di atas kertas. Dari situ, sense-nya soal isu publik kebentuk: ngerti mana yang sekadar wacana, mana yang benar-benar jadi kebutuhan masyarakat.
Perjalanan kariernya juga nggak instan. Dia pernah jadi Anggota KPU Kabupaten Pelalawan sejak 2003, lanjut periode kedua, sampai akhirnya dipercaya jadi Ketua KPU Pelalawan periode 2010–2014. Track record ini nunjukin satu hal: dia bukan pemain baru yang tiba-tiba muncul, tapi sudah lama “main di sistem” dan paham cara kerja demokrasi dari dalam.
Puncaknya datang di Pemilu 2024. Dengan raihan 189.171 suara, Abdul Hamid berhasil melenggang ke DPD RI sebagai wakil Provinsi Riau untuk periode 2024–2029. Angka itu bukan kecil—itu bukti kalau basis dukungannya nyata dan tersebar.
Sebagai anggota DPD RI, perannya jelas: jadi penyambung lidah daerah. Dan buat Riau, tugas ini nggak ringan. Daerah kaya sumber daya, tapi masih sering berasa “kurang kebagian”. Dari isu dana bagi hasil sampai pembangunan infrastruktur, semuanya butuh dorongan yang konsisten di level pusat.
Menariknya, Hamid nggak memilih jalur “rame”. Dia lebih sering kerja lewat pendekatan langsung: turun ke daerah, serap aspirasi, dan bawa ke meja pusat. Nggak banyak noise, tapi tetap ada gerak.
Di tengah dunia politik yang makin penuh pencitraan, sosok kayak Abdul Hamid jadi semacam anomali yang justru penting. Nggak harus selalu viral buat bisa berdampak. Kadang yang dibutuhkan itu orang yang ngerti medan, punya pengalaman, dan tetap ingat dari mana dia berasal.
Dengan latar sebagai jurnalis, penyelenggara pemilu, sampai akhirnya jadi senator, perjalanan Hamid kayak ngasih satu pesan simpel: politik nggak selalu soal siapa yang paling keras suaranya—tapi siapa yang paling konsisten jalan.
