Manusiasenayan.id – Di tengah dunia politik yang sering penuh pencitraan dan perang narasi, Nazaruddin Dek Gam datang dengan gaya yang beda. Politisi dari Fraksi PAN ini bukan tipe orang yang cuma aktif di balik meja rapat atau sibuk bikin jargon formal. Buat banyak warga Aceh, dia lebih dikenal sebagai sosok yang dekat dengan lapangan—mulai dari dunia usaha, olahraga, sampai politik nasional.
Lahir di Aceh Besar pada 20 Mei 1979, Dek Gam tumbuh dari lingkungan sederhana di Leupung. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 1 Leupung Banda Aceh, lalu lanjut ke SMPN 2 Banda Aceh dan menamatkan sekolah di SMAN 3 Banda Aceh. Dari masa sekolah itu, karakter kepemimpinannya mulai kebentuk: keras, aktif, dan punya jiwa kompetitif.
Sebelum masuk DPR RI, Dek Gam lebih dulu dikenal sebagai pengusaha yang serius membangun bisnis di Aceh. Sejak 2004, ia memimpin PT Putra Sinar Desa sebagai Direktur Utama. Setelah itu, bisnisnya berkembang ke berbagai sektor seperti perhotelan lewat Hotel Pantai Barat dan Hotel Grand Transit, olahraga melalui Aceh Sport Center, sampai industri lewat Pabrik Es PT Sinar Harapan.
Tapi satu hal yang bikin namanya benar-benar melekat di hati masyarakat Aceh adalah sepak bola.
Saat banyak klub daerah tumbang karena masalah finansial, Dek Gam justru datang menyelamatkan Persiraja Banda Aceh. Sejak 2016, ia menjadi Presiden klub sekaligus pemilik Persiraja. Di tangan dia, Persiraja kembali bangkit dan sempat membawa atmosfer kebanggaan baru buat masyarakat Aceh. Buat warga sana, Persiraja bukan sekadar klub bola—tapi simbol harga diri daerah.
Karier organisasinya juga nggak main-main. Ia pernah aktif di KNPI Aceh, jadi Ketua Harian FORKI Aceh, sampai dipercaya memimpin Federasi Hockey Indonesia Aceh. Aktivitas organisasi itu bikin jejaring sosial dan pengaruhnya makin kuat di kalangan pemuda Aceh.
Masuk ke Senayan lewat PAN, Dek Gam akhirnya duduk sebagai anggota Komisi III DPR RI, komisi yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan. Di periode terbaru DPR, ia juga dipercaya masuk ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD)—posisi strategis yang berkaitan langsung dengan etika anggota parlemen.
Di luar semua jabatan itu, ada satu hal yang bikin Dek Gam tetap relevan di mata banyak orang: dia nggak pernah benar-benar lepas dari akar daerahnya. Dari bisnis, olahraga, sampai politik, langkahnya selalu muter di satu tujuan—bawa nama Aceh tetap punya tempat dan suara di tingkat nasional.
