Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin sosok politisi yang jalannya pelan tapi pasti, nama Rizki Faisal layak masuk radar. Bukan tipe yang tiap hari cari spotlight, tapi rekam jejaknya rapi—kayak anak tongkrongan yang jarang ngomong, tapi sekali buka suara langsung semua dengerin.

Lahir dari latar pendidikan yang “lokal banget tapi konsisten”, Rizki memulai dari SDN 01 Pekanbaru (1988), lanjut ke SMPN 01 Pekanbaru (1991), lalu SMAN 07 Pekanbaru (1995), sampai akhirnya merampungkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ekonomi Adhy Niaga (2012). Jalurnya nggak neko-neko, tapi keliatan jelas: pelan, naik, dan nggak lompat-lompat.

Masuk ke dunia politik, Rizki bukan langsung duduk manis di pusat. Ia mulai dari daerah dan benar-benar “ngerasain” dapur pemerintahan. Di periode 2009–2014, ia dipercaya sebagai Ketua Komisi IV DPRD Provinsi, lalu naik jadi Wakil Ketua I DPRD Provinsi (2014–2019). Nggak berhenti di situ, ia kembali jadi Ketua Komisi IV (2019–2022) sebelum akhirnya balik lagi ke kursi strategis sebagai Wakil Ketua I DPRD (2022–2024).

Track record ini nunjukin satu hal: dia bukan pemain coba-coba. Dia udah kenyang pengalaman sebelum akhirnya melangkah ke level nasional.

Di balik itu, sisi organisasinya juga nggak kalah padat. Dari muda, Rizki udah aktif—mulai dari Ketua Kecamatan Sail (1990–1997) sampai jadi Ketua Presideum Aliansi Mahasiswa Riau (2000–2002). Di internal Golkar, kariernya juga naik stabil: dari Wakil Sekretaris DPD I Golkar Kepri (2003–2004) sampai sekarang jadi Sekretaris DPD Partai Golkar Kepri (2022–2025).

Nggak cuma partai, dia juga pegang peran penting di berbagai organisasi seperti Ketua MKGR Kepri (2019–2024) dan Ketua Dewan Pembina Pemuda Pancasila (2022–2027). Ini nunjukin kalau jaringan dan pengaruhnya nggak cuma di parlemen, tapi juga kuat di akar rumput.

Sekarang di Senayan, Rizki duduk di Komisi III DPR RI, komisi yang isinya heavyweight semua—ngurus hukum, keamanan, dan HAM. Nggak heran kalau gaya dia tetap sama: langsung ke inti, minim gimmick, fokus ke hasil.

Menariknya, meski nggak punya daftar penghargaan formal, justru itu yang bikin profilnya beda. Dia lebih terlihat sebagai “pekerja” daripada “pajangan”.

Di tengah politik yang sering rame pencitraan, Rizki Faisal tampil sebagai sosok yang kerja diam-diam tapi impact-nya terasa. Buat generasi muda yang lagi belajar ngerti politik, dia bukti kalau konsistensi kadang lebih penting daripada sensasi.