Manusiasenayan.id – Di tengah panasnya dunia politik Senayan yang kadang lebih rame dari timeline X pas musim debat, sosok Siti Aisyah hadir dengan gaya yang beda. Nggak banyak sensasi, nggak sibuk bikin panggung viral, tapi langkahnya pelan-pelan nunjukkin kalau politik masih bisa dipakai buat kerja nyata.
Perempuan kelahiran Bengkalis, Riau, 12 Oktober 1967 ini sekarang duduk sebagai Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan untuk periode 2024–2029. Buat yang belum tahu, Komisi III itu bukan komisi sembarangan. Isinya ngomongin hukum, HAM, kepolisian, sampai reformasi penegakan hukum. Tempat yang panas, penuh tekanan, dan butuh orang yang ngerti medan.
Dan Siti Aisyah punya modal itu.
Background pendidikannya kuat banget di bidang hukum. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning Pekanbaru pada 1986–1992, lalu melanjutkan ke Universitas Sumatera Utara dengan spesialisasi notaris pada 1992–1995. Menariknya lagi, di waktu yang hampir bersamaan ia juga kuliah di Fakultas Ushuluddin IAIN Pekanbaru. Kombinasi hukum dan pendekatan keagamaan itu bikin cara pandangnya soal keadilan terasa lebih lengkap: tegas, tapi tetap manusiawi.
Sebelum duduk di DPR RI, Siti Aisyah juga aktif di banyak organisasi. Bukan sekadar numpang nama, tapi benar-benar pegang posisi penting. Ia pernah menjadi Ketua Ikatan Notaris Indonesia selama lebih dari dua dekade, dari 2001 sampai 2024. Durasi yang nggak sebentar dan nunjukkin kalau kapasitasnya di dunia hukum memang diakui.
Selain itu, ia juga aktif di KNPI sebagai sekretaris, Pemuda Pancasila sebagai dewan pakar, sampai menjadi ketua Yayasan Pendidikan Indragiri. Dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, hingga profesi hukum pernah ia jalani. Jadi wajar kalau gaya komunikasinya terasa cair saat turun ke masyarakat, tapi tetap kuat saat bicara isu hukum di parlemen.
Di DPR, Siti Aisyah kini masuk di Badan Legislasi (Baleg) sekaligus Komisi III. Posisi ini bikin dirinya ikut terlibat dalam pembahasan banyak regulasi strategis nasional. Beberapa kali ia juga terlihat vokal soal pengawasan profesi advokat, reformasi hukum, dan perlindungan masyarakat kecil dalam sistem hukum Indonesia.
Yang menarik, meski aktif di politik nasional, auranya tetap terasa seperti “ibu tongkrongan daerah” yang gampang diajak ngobrol. Nggak terlalu birokratis, nggak terlalu dibuat-buat. Tipikal politisi yang lebih nyaman kerja daripada sibuk bikin pencitraan.
Di era ketika publik makin skeptis sama politisi, sosok seperti Siti Aisyah jadi pengingat kalau masih ada wakil rakyat yang datang bukan cuma buat duduk di kursi empuk Senayan, tapi juga bawa pengalaman panjang dari organisasi, pendidikan, dan dunia hukum langsung ke meja parlemen.
Dan mungkin itu yang bikin dirinya menarik: kalem di luar, tapi punya rekam jejak yang nggak bisa dianggap biasa.
