Manusiasenayan.id – Kalau ada yang bilang politik itu cuma urusan orang-orang yang lahir dari keluarga politisi, kisah drh. H. Slamet mungkin bisa jadi pengecualian. Soalnya, sebelum dikenal sebagai Kapoksi PKS di Komisi IV DPR RI, Slamet lebih dulu berkutat di dunia peternakan dan kesehatan hewan.
Lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 19 Mei 1971, Slamet tumbuh seperti kebanyakan anak daerah lainnya. Ia mengenyam pendidikan di SD Negeri Wonokerto, lalu melanjutkan ke SMP Negeri Sale dan SMA Negeri 2 Rembang. Ketertarikannya pada dunia peternakan membawanya kuliah di Universitas Udayana pada 1991 hingga 1998 dan meraih gelar dokter hewan.
Karier profesionalnya juga jauh dari hingar-bingar politik. Slamet pernah bekerja di sejumlah perusahaan swasta seperti PT Mulya Sejahtera dan PT Primatama Karya Persada. Namun pengalaman yang paling menonjol datang saat ia dipercaya menjadi Direktur PT Palamarta, perusahaan peternakan ayam, pada periode 2011–2018. Dari sinilah ia memahami langsung tantangan yang dihadapi peternak, mulai dari harga pakan, distribusi hasil ternak, hingga ketahanan pangan nasional.
Masuk ke dunia politik, Slamet tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa pengalaman lapangan yang cukup panjang. Aktivismenya sudah dimulai sejak muda. Ia pernah menjadi Ketua KAMMI periode 1998–2003, kemudian dipercaya memimpin DPD PKS Kabupaten Sukabumi pada 2004–2010. Karier organisasinya terus berkembang hingga menjabat Ketua BPW Anjabar DPP PKS periode 2022–2024.
Di tingkat nasional, Slamet mulai duduk di Senayan pada 2018 sebagai anggota DPR RI. Setelah kembali terpilih pada Pemilu 2019 dan 2024 dari Dapil Jawa Barat IV, ia tetap dipercaya bertugas di Komisi IV DPR RI, komisi yang membidangi pertanian, pangan, kelautan, kehutanan, dan lingkungan hidup.
Selain menjadi anggota DPR RI, ia juga aktif sebagai anggota MPR RI, anggota GKSB, serta terlibat dalam berbagai alat kelengkapan dewan seperti Badan Anggaran, Panitia Khusus, Panja KSDHE, dan Pansus RUU Kelautan. Keterlibatannya dalam berbagai forum tersebut menunjukkan fokusnya yang kuat terhadap isu pangan, sumber daya alam, dan kesejahteraan masyarakat desa.
Yang membuat Slamet menarik bukan hanya jabatannya, tetapi latar belakangnya. Tidak banyak anggota parlemen yang benar-benar pernah berada di lapangan sebagai pelaku usaha peternakan. Karena itu, ketika berbicara soal petani, peternak, atau ketahanan pangan, ia tidak hanya membawa data di atas meja, tetapi juga pengalaman nyata dari lapangan.
Di tengah tantangan sektor pangan yang semakin kompleks, sosok drh. H. Slamet menjadi contoh bagaimana pengalaman profesional dapat menjadi bekal penting dalam merumuskan kebijakan. Dari kandang ayam hingga ruang rapat Senayan, perjalanan politiknya menunjukkan bahwa memahami persoalan rakyat sering kali dimulai dari terjun langsung ke kehidupan mereka.
