Manusiasenayan.id – Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) lagi digadang-gadang bakal jadi mesin baru buat ngedorong ekonomi desa. Tapi di balik ambisi itu, DPR ngingetin satu hal penting: jangan sampai niat bantu rakyat malah bikin UMKM dan warung kelontong yang udah lama berdiri jadi tumbang.

Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, minta Kementerian Koperasi buru-buru ngasih kejelasan soal peran KDKMP. Menurut dia, koperasi ini jangan ikut-ikutan jualan langsung ke warga kayak toko ritel. Lebih pas kalau KDKMP jadi grosir atau pusat distribusi yang nyuplai barang ke warung, kios, dan pelaku UMKM di desa.

Kalau perannya kayak gitu, semua pihak bisa sama-sama jalan. Warung tetap hidup, UMKM tetap berkembang, sementara KDKMP jadi penghubung distribusi barang yang bikin rantai pasok makin efisien.

Jangan sampai KDKMP malah ngebunuh ekonomi desa. Kita ini pakai sistem ekonomi Pancasila, jadi harus saling nguatin, bukan saling sikut,” kata Darmadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (14/7/2026).

Menurut politisi Fraksi PDI Perjuangan itu, KDKMP sebenarnya punya modal besar. Mulai dari gudang, armada distribusi, sampai dukungan pemerintah. Makanya sayang kalau semua fasilitas itu dipakai buat bersaing langsung sama warung kelontong yang modalnya jauh lebih kecil.

Kalau koperasi turun langsung jualan ke masyarakat, yang paling dulu kena dampaknya ya usaha-usaha kecil di desa. Padahal selama ini merekalah yang ikut muterin roda ekonomi lokal.

Darmadi bilang, sampai sekarang aturan turunannya juga masih bikin bingung. Belum ada penjelasan tegas apakah KDKMP itu fungsinya sebagai pengecer atau pedagang besar. Nah, ketidakjelasan ini yang menurutnya harus segera diberesin.

“Kalau ujung-ujungnya malah bikin usaha kecil mati, terus koperasi ini dibentuk buat apa?” sindirnya.

Ia juga meminta Kementerian Koperasi nggak cuma jalan terus tanpa evaluasi. Pemerintah diminta segera nganalisis, ngecek, dan ngitung dampak model bisnis KDKMP di lapangan. Jangan sampai setelah ribuan koperasi berdiri, baru ketahuan kalau banyak warung kecil yang kehilangan pelanggan.

Sorotan lain datang dari potensi persaingan usaha yang nggak sehat. Soalnya, KDKMP dapat berbagai dukungan negara, mulai dari akses distribusi sampai fasilitas tertentu. Sementara warung kelontong harus berjuang pakai modal sendiri.

Menurut Darmadi, isu ini sebenarnya udah beberapa kali dibahas bareng Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Meski begitu, ia mengakui KPPU masih cukup hati-hati karena program ini melibatkan pemerintah.

Ke depan, DPR juga bakal ngedorong supaya fungsi KDKMP diatur lebih jelas lewat revisi Undang-Undang Perkoperasian. Tujuannya biar nggak ada lagi tafsir yang beda-beda soal peran koperasi ini.

Sementara itu, berdasarkan data Simkopdes per 9 Juli 2026, KDKMP udah mencatat transaksi nasional mencapai Rp56,57 miliar dari lebih dari 53 ribu aktivitas perdagangan. Pemerintah juga menyiapkan koperasi ini buat ngelola gerai sembako, layanan kesehatan sederhana, keuangan mikro, pergudangan, logistik, sampai jadi offtaker hasil pertanian, perikanan, dan produk UMKM.

Meski begitu, keresahan di lapangan belum hilang. Beberapa pemilik warung mengaku mulai waswas karena takut KDKMP bisa dapet harga barang lebih murah lalu jual dengan harga yang susah disaingi.

Di sisi lain, pemerintah daerah menegaskan kalau tujuan KDKMP bukan buat jadi lawan warung kelontong, tapi justru nguatin ekonomi desa.

Makanya sekarang bola ada di tangan pemerintah. Kalau aturannya jelas, KDKMP bisa jadi partner buat UMKM. Tapi kalau perannya masih abu-abu, yang dikhawatirin justru ekonomi desa bakal saling sikut sendiri.