Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin perubahan, banyak orang mungkin langsung kebayang aksi besar. Padahal, nggak selalu begitu. Kadang, hal sesimpel donasi, kasih pakaian layak pakai, atau bantu orang di sekitar justru bisa jadi awal dari perubahan yang lebih gede.

Pesan ini jadi benang merah dalam diskusi “The Power of Small Acts” di IdeaFest 2026, JICC Senayan, Jumat (4/9/2026). Diskusi ini menghadirkan Vikra Ijas, Co-founder Kitabisa, Mary Sutedja, Project Manager Save the Children Indonesia, dan Irma Yunita, Corporate Affairs Director Uniqlo Indonesia.

Vikra Ijas melihat budaya gotong royong sebagai salah satu modal kuat masyarakat Indonesia buat menciptakan perubahan sosial. Menurutnya, siapa pun sebenarnya bisa ikut ambil bagian. Nggak harus punya uang banyak atau melakukan sesuatu yang spektakuler.

“Sering kali kita merasa apa yang kita lakukan terlalu kecil untuk membawa perubahan. Padahal, gotong royong mengajarkan bahwa ketika banyak orang mengambil bagian, kontribusi sederhana dapat bertumbuh menjadi dampak yang sangat besar,” ujar Vikra.

Hal ini juga kelihatan dari cara masyarakat berbagi lewat barang-barang sederhana. Salah satunya pakaian. Bukan cuma soal kebutuhan sandang, pakaian yang dibagikan juga bisa memberikan kenyamanan, menjaga rasa percaya diri, sekaligus membantu orang yang memang membutuhkan.

Kolaborasi Uniqlo bersama Kitabisa jadi salah satu contohnya. Lewat aksi kepedulian konsumen, bantuan tunai dan pakaian berhasil diberikan kepada 1.000 guru honorer di 12 provinsi. Menariknya, sekitar 70 persen penerima bantuan berada di wilayah Indonesia Timur.

Nggak berhenti di situ. Kepedulian juga menyasar anak-anak dan lingkungan sekolah. Bersama Save the Children Indonesia, program sosial yang dijalankan berhasil mendukung upaya pencegahan anti-bullying serta perbaikan fasilitas sanitasi di 16 sekolah yang berada di Bandung dan Yogyakarta.

“Ketika banyak pihak bergerak bersama, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh anak-anak. Kolaborasi ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan suportif,” kata Mary Sutedja.

Dari sisi lingkungan, aksi kecil juga bisa dimulai dari barang yang sering dianggap sepele, yaitu pakaian bekas. Sebanyak 12.000 pakaian hasil donasi masyarakat disalurkan Uniqlo kepada 1.000 keluarga yang membutuhkan di Bekasi Barat.

Sementara pakaian yang sudah nggak layak pakai nggak langsung berakhir jadi sampah. Lewat kolaborasi dengan PABLE Indonesia, sebanyak 600 kilogram kain bekas diolah menjadi material tas sekolah daur ulang untuk anak-anak di wilayah terdampak bencana.

Jadi, kalau masih merasa kontribusi diri sendiri terlalu kecil, mungkin perspektifnya yang perlu digeser. Perubahan nggak selalu lahir dari satu aksi besar. Perubahan bisa muncul dari banyak orang yang konsisten melakukan hal kecil.

Karena ketika aksi kecil dilakukan bareng-bareng, dampaknya bisa jadi jauh lebih besar.